57 Pabrik Crumb Rubber di Sumut Terancam Tumbang

57 Pabrik Crumb Rubber di Sumut Terancam Tumbang

Sebanyak 57 industri crumb rubber di Sumatera Utara terancam tumbang. Pasalnya, semakin minimnya pasokan bahan baku dan suplai dari sentra produksi, membuat kapasitas produksi pabrik tidak maksimal. Bahkan, beberapa mesin di sejumlah pabrik crumb rubber telah mengalami ‘idle’ atau tidak lagi berproduksi.

Sekretaris Eksekutif Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI) Sumut Sofyan Subang mengatakan, keresahan para pelaku industri crumb rubber bertambah dengan rencana masuknya investor asing asal Thailand. Rencananya, mereka akan membangun pabrik crumb rubber berkapasitas 60 ribu ton per tahun di daerah Gunung Tua, Padang Lawas, salah satu sentra perkebunan karet daerah.

“Saat ini 57 pabrik crumb rubber di Sumut terancam tumbang dan ancaman ini benar-benar serius. Pabrikan merasa gelisah,” ucap Sofyan, didampingi Pengurus Suharil Latief, di Medan, Kamis (11/8/2011). Sofyan menilai, suplai bahan baku bahan olah karet rakyat (bokar) semakin menipis, lantaran produksi semakin tahun makin berkurang.

Kurangnya perawatan dan replanting tanaman karet terutama tanaman tua, membuat produksi karet rakyat semakin lama semakin menurun. Data Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo), produksi karet terus mengalami defisit. Kapasitas pabrik crumb rubber di Sumut misalnya, kata dia, mencapai 800 ribu ton per tahun, sementara produksi latex tahun 2010 hanya mencapai 380 ribu ton per tahun. Ekspor karet mencapai 513.811,8 ton per tahun.

“Selama ini kekurangan suplai bahan baku karet dipasok dari daerah lain seperti Aceh, Riau dan Palembang. Dengan rencana penambahan pabrik baru, berarti pasokan akan makin berkurang,” ucap Sofyan. Menurutnya, tidak masalah investor asing masuk di sektor industri karet, asalkan bergerak di sektor hilir atau turunan. Namun, jika investor tersebut bermain di sektor hulu, dipastikan semakin memperketat ketersediaan bahan baku lokal.

Asosiasi, sebut dia, menginginkan agar pemerintah mengkaji kemampuan produksi bahan baku dan kapasitas pabrik di Sumut, sehingga dari sini bisa diperoleh kesimpulan apakah perlu penambahan pabrik baru. “Kondisi ini pernah dialami eksportir kopi. Sejak keran pemain asing diperbolehkan masuk, terjadi penyusutan jumlah eksportir kopi dari tadinya 135 menjadi 33. Hal inilah yang dikhawatirkan terjadi pada eksportir karet,” tukasnya.

Bersama Gapkindo, GPEI sudah melayangkan surat agar pemerintah juga serius memperketat pengawasan pengiriman bahan baku remiling yang tetap diekspor. Padahal, ada ketentuan dari pemerintah tentang larangan ekspor remiling ke luar negeri.

0
Like
Save

Comments

van says:

bang editor,
istilah ‘crumm’ rubber gak ada. yg ada ‘crumb’ alias remah karet.

wass,
van

Silakan Berbagi / Komentar

%d bloggers like this: