Membanjirnya produk ban impor di pasar lokal telah membuat sejumlah produsen ban di Sumatera Utara resah. Produk ban luar luar negeri terus masuk dan beredar di pasaran seiring pemberlakuan Asean China Free Trade Agreement (ACFTA) di Januari 2010.
“Ban impor makin banyak beredar. Paling banyak buatan Cina,” ucap Direktur SDM PT Industri Karet Deli Verry Yonawan, Jumat (25/6).
Diakuinya, meski masuk secara legal, namun keberadaan produk ban-ban asal Cina itu sukar dibendung. Selain itu sulit memerkirakan seberapa besar arus masuk ban itu ke market Sumut. Meski begitu, umumnya produk ban dimaksud telah mengantongi label SNI.
Menurut Verry, kecemasan produsen ban sangatlah beralasan. Gempuran ban impor dipastikan membuat pangsa pasar ban lokal mulai tergeser. Di tengah belum pulihnya permintaan pasar, menjaga keutuhan margin merupakan hal penting untuk tetap eksis.
PT IKD, selain memasarkannya ke lokal juga ke mancanegara. Timur Tengah dan Eropa adalah pasar luar negeri terbesar. Belanda misalnya, ban roda dua merek Deli Tyred produksi PT IKD, sangat diminati. Sedangkan di Timur Tengah, umumnya ban kendaraan roda empat.
Verry mengungkapkan, kecemasan lain dipicu rencana masuknya produsen ban raksasa asal Korea, Hankook dalam tahun ini. Tak tanggung-tanggung, kata dia, nilai investasi sebesar US$ 600 juta bakal ditanamkan perusahaan raksasa di Indonesia. Selain itu, konsorsium antara PTPN I sampai 13 akan dibentuk untuk membangun satu pabrik ban berkapasitas besar.
“Walau mereka bangun pabrik di Jawa, tetap saja meresahkan kita. Pasar pasti bakal menurun, karna sudah ada pemain baru,” ucapnya, tanpa mau menyebut berapa besar penurunan produksi pasca kebijakan ACFTA dan semakin maraknya gempuran ban impor.
Kepala Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Los Angeles Zulfikar sebelumnya mengatakan, produsen ban Indonesia dinilai berpotensi menggarap maksimal pasar Amerika Serikat, menyusul dinaikannya tarif bea masuk (BM) ban asal Cina sebesar 35% dari tarif ban biasa sejak September 2009. Adanya pengenaan kebijakan tarif baru dari pemerintah setempat dianggap sebagai peluang bagi Indonesia “mencuri” pasar tersebut.
“Sejak September kemarin, AS menetapkan tarif 35% ban yang diimpor dari Cina. Artinya ‘spread’ tarif berbeda dari tarif ban normal produksi negara lain. Nah, share itu bisa diambil dari Indonesia,” ucap Zulfikar.
Zulfikar menjelaskan, adanya kebijakan dari pemerintah AS menerapkan tarif BM baru atas produk ban negara Tembok Raksasa itu, tak lepas dari sejarah hubungan diplomatis antar keduanya yang pasang surut selama puluhan tahun. Kondisi ini secara tak langsung berdampak pada hubungan ekonomi antar ke dua negara besar itu. AS, sebut dia, tentunya tak akan membiarkan begitu saja produk Cina membanjiri pasar mereka.
Popularity: 1% [?]
RSS Feeds
Twitter
Facebook
E-Mail












