Bayi Malang, Lahir Tanpa Tempurung Kepala

Bayi Malang, Lahir Tanpa Tempurung Kepala

bayi tanpa tempurung kepala

Malang benar nasib seorang bayi di Salatiga, Jawa Tengah. Betapa tidak, saat masih ada di kandungan bayi bernama Yuan Putra Perdana sudah kekurangan asupan gizi. Saat lahir, sang bayi tidak memiliki tempurung kepala.

Yuan lahir pada 5 Oktober 2009 lalu dengan berat 3,5 kilogram dan panjang 44 sentimeter. Ia adalah buah kasih Tri Suharti (22 tahun) dengan suaminya, Dwi Agus Arianto (29) warga Sumogawe RT 02 RW V, Kelurahan Sumogawe, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang.

Tri Suharti saat ditemui Kamis (19/11), hanya bisa pasrah menunggu putranya dengan setia, sambil menunggu mukjizat dan uluran tangan para dermawan.

Sebagian kepala Yuan kini ditumbuhi rambut. Selain itu bayi itu juga mengalami kelainan bawaan yakni bibir sumbing. Dokter spesialis anak RSUD Salatiga, dr Dwi Ambarwati SpA, Jumat (13/11) pagi pekan lalu menjelaskan, Yuan mengalami kongenital atau kelainan sejak lahir.

“Penyebabnya tidak diketahui dengan pasti. Sejak lahir tulang tempurung kepalanya tidak ada, namun otak ada. Selain kelainan pada tempurung kepala, si bayi juga mengalami labio palatus skisis atau bibir sumbing,” kata Dwi Ambarwati.
Pihak Rumah Sakit Umum Salatiga juga pasrah menghadapi penyakit Yuan. Maklum, peralatan medis yang mereka punya terbatas. Untuk dipindahkan ke rumah sakit yang lebih besar juga tak tidak ada biaya.

Bayi tanpa tempurung kepala bukan baru kali pertama terjadi akibat kemiskinan. Keluarga pasien hanya pasrah karena tak punya duit. Anggaran rumah sakit untuk memberi layanan bagi pasien hingga sembuh sangat kecil sehingga memberatkan rakyat lemah.

Sehat

Sementara ini, bayi dinyatakan dalam keadaan sehat. Meski kini berat badannya turun dan menjadi 2,7 kilogram, penurunan itu dinilai masih wajar. Ditambah, sejak lahir si bayi tidak mendapatkan asupan air susu ibu (ASI), lantaran si ibu tidak mengeluarkan ASI selesai melahirkan. “Untuk itu selama masa perawatan, bayi dimasukkan ke dalam inkubator khusus,” papar Dwi.

1Bayi2SLG 13Sebagai ganti ASI, Yuan mendapatkan asupan air dengan bantuan selang ke lambungnya. Tidak hanya itu, Yuan juga terkadang mendapatkan bantuan oksigen lantaran susah bernafas, karena di saluran pernafasannya tersumbat lendir. Lendir tersebut rutin disedot selama masa perawatan.

Ketika lahir pun, sebenarnya Yuan mengalami sakit kuning. Sehingga satu minggu pertama setelah lahir seluruh tubuhnya berwarna kuning. Tapi setelah mendapatkan support hidup dari segala pihak, tubuh Yuan berangsur normal.

Langkah yang dilakukan RSUD Salatiga yakni menutup kepala Yuan yang tidak memiliki tempurung kepala dengan kain kasa. Hal ini dilakukan untuk mengurangi infeksi atau trauma akibat hal-hal tidak diinginkan, seperti tersentuh benda keras. Selain itu kondisi selaput otak Yuan juga rawan.

Pihak RSUD Salatiga pun telah bekerjasama dengan Bagian Syaraf Rumah Sakit (RS) dr Kariadi Semarang.

Hanya saja Ruang Bedah di RS Kariadi masih penuh, Yuan masih menunggu antrean yang belum jelas waktunya kapan bisa dirawat di RS itu. Beruntung orangtua Yuan tidak terbebani biaya, mengingat orangtuanya kurang mampu sehingga menggunakan kartu keluarga miskin.

Di singgung adanya informasi bahwa ibu bayi harus menebus resep senilai kurang lebih Rp 150 ribu ke apotik di luar RSUD Salatiga, dr Dwi menjelaskan, hal itu karena tidak adanya ketersediaan obat jenis tertentu bagi Yuan. (Sumber: Wawasan-Liputan6)

0
Like
Save

Comments

Silakan Berbagi / Komentar

%d bloggers like this: