KRISIS ekonomi yang masih menempel di negara-negara Eropa dan Amerika Serikat (AS) diyakini menjadi pendorong penguatan rupiah terhadap dollar AS. Rabu (27/7), rupiah menguat menembus Rp 8.500 per dollar AS.
Hartadi Agus Sarwono, Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) menjelaskan, pelemahan the greenback disebabkan ketidakpastian negosiasi kebijakan fiskal di Amerika, serta pemulihan ekonomi Eropa pasca Yunani menerima dana bailout kedua.
“Penguatan rupiah lebih banyak diakibatkan pelemahan US dollar, ketimbang inflow yang masih dalam batas normal,” kata Hartadi, Rabu (27/7/2011).
Namun, Hartadi meramal, pemerintah AS dan parlemennya segera mengusahakan penyelesaian utang mereka dalam waktu dekat. Pasalnya, AS dan negara-negara di dunia sadar akan risiko gagalnya kesepakatan ini.
Catherine Hadiman Wakil Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) menambahkan, krisis di Eropa mendorong investor asing menanamkan dananya di tanah air.
Krisis tersebut tidak akan berdampak buruk, kecuali menerpa ekonomi negara raksasa Asia seperti China dan India yang dapat membuat situasi politik bergolak. “Saat ini pertumbuhan kedua negara tersebut masih baik meskipun inflasinya tinggi. Jadi, kami melihat Asia masih besar investasinya,” kata Catherine. (Sumber:Kontan)
Popularity: 1% [?]
RSS Feeds
Twitter
Facebook
E-Mail










