
Bisnis jajanan jenis burger di kawasan sekolahan dan kampus ternyata masih sangat prospektif. Selain peminat yang banyak, bisnis inipun tergolong mudah dijalankan dan tidak perlu modal besar. Seperti dilakoni Roni, pengusaha burger yang kini telah memiliki tujuh buah counter burger di Medan.
Ide membuka burger dan roti bakar, kata Roni, memang sudah lama ada di benaknya. Roni yang dulunya sering nongkrong di kawasan kampus melihat begitu banyak penggemar burger dan roti bakar di kawasan tersebut. Dan hebatnya lagi hampir semua pedagang burger dan roti bakar tersebut laris-manis. Karena alasan itulah akhirnya Roni pun memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya.
Ia pun mengutarakan maksudnya kepada orang tua. Awalnya orangtuanya nggak setuju. “Alasan mereka gengsi dagang gituan. Tapi karena tekad saya sudah bulat mereka akhirnya menyetujui juga,” ungkap Roni.
Awalnya memang tidak mudah bagi Roni. Apalagi ia juga dikenal sebagai anak orang berada. Kadang kala muncul rasa malu dan tak percaya diri mendengar ocehan dari teman-teman kuliahnya dulu. Butuh kesabaran yang tinggi apalagi, pada saat menunggu pelanggan. Namun karena tak mau disalahkan orang tua, ia pun akhirnya bertahan dengan dagangan burger dan roti bakarnya.
“Alhamdulillah sekarang saya bisa melewatinya,” kata pria yang sudah punya tujuh counter burger dan roti bakar di kawasan kampus dan sekolah di Kota Medan ini lagi.
Menurut Roni memulai usaha dan menjadikan usaha tersebut besar memang bukan hal yang mudah. Perlu kejelian untuk melihat potensi peluang usaha. Dan menurut Roni, daerah kawasan kampus atau sekolahan memang daerah yang paling strategis untuk memulai usaha, apalagi usaha makanan.
Memang dari segi penawaran, harganya lebih murah dibandingkan dengan daerah lainnya. Tapi karena jumlah yang beli banyak, maka keuntungan yang didapat pun juga lumayan banyak. “Biar sedikit yang penting laris,” ungkap Roni.
Roni mengatakan, jika di tempat lain harga jual burger standar dengan komposisi isi yang sama dijual Rp 5.000 maka di kampus dan kawasan sekolah Roni hanya menjual dengan harga Rp 4.000 per piece.
Harga murah memang bukan satu-satunya strategi yang ditawarkan untuk merebut hati pembeli, namun juga kualitas rasa dan kebersihan. “Saya selalu mengutamakan kualitas rasa dan kebersihan. Selain itu juga harus menjalin keakraban dengan para pelanggan. “Namanya anak sekolah dan mahasiswa kita pun harus akrab sama mereka. Apa kebutuhan mereka kalau masih bisa dipenuhi ya kita penuhi,”ungkap Roni lagi. (Sumber: pemkomedan/ Foto: int)
Popularity: 2% [?]
RSS Feeds
Twitter
Facebook
E-Mail











crazytainment.com Says:
Saya jg tertarik dengan bisnis burger..
: )
Posted on January 7th, 2010 at 11:46 AM
fauzi Says:
saya sngt tertarik bisnis burger apa bisa krm ke email cara francais..saya mau buka d aceh…
Posted on January 28th, 2010 at 6:48 PM
Denny Sitohang | Medan Talk Says:
Bang Fauzi, tidak harus franchise. Kan bisa jualan dengan merk sendiri. Tak susah kok bikinnya. Buku buat burger ada banyak di Gramedia.
Posted on January 29th, 2010 at 5:54 AM