Bisnis EO di Medan Masih “Seksi”

17/10/2009 in Business

EOBagi sebagian orang, tak sulit mendirikan sebuah Event Organizer (EO). Cukup bermodalkan kreatifitas atau ide-ide inovatif tentang bagaimana menciptakan sebuah event yang menarik dan ramai, jaringan kuat dengan para vendor dan kemampuan melobi sponsor, maka peluang “seksi” untuk menjalankan EO terbuka sudah. Tapi, tunggu dulu, apakah memang segampang itu?

Peluang untuk menghasilkan uang dengan menjalankan sebuah EO memang kelihatannya “seksi”. Bila misalnya sebuah event produk berlangsung dengan kerumunan massa yang membludak dengan efek domino yang “wah”, maka sebuah EO boleh dikatakan telah melaksanakan misinya dengan sukses. Selain sejumlah margin mengalir deras ke kantong, kepercayaan dari para klien pun semakin kuat. Dan ini akan memuluskan eksisnya sebuah EO ke depannya.

Tapi, bagaimana bila yang terjadi tidak sesuai dengan yang diharapkan? Bisa-bisa saja, klien akan berpikir dua kali untuk menggandeng EO yang sama. Dan, saat itu, eksistensi EO tersebut bisa jadi sedang dalam keadaan terancam. Bahkan, bisa saja, tak lama kemudian, EO tersebut hanya akan tinggal nama.

Meski demikian, dengan peluang yang masih terbuka “seksi” itu, tak banyak kemudian orang yang tertarik ke dunia EO. Namun, memulai EO tak semudah menjalankannya ke depan.

“Memulai sebuah EO memang kelihatannya mudah. Tapi, mempertahankan sebuah EO, jauh lebih sulit dari yang dibayangkan. Makanya, ketika hendak memulai sebuah bisnis EO sebaiknya harus memiliki prinsip, bahwa ini bukanlah usaha coba-coba. Pandai menjalin kepercayaan klien, fokus didukung dengan kreatifitas yang inovatif, itu yang utama,” kata Herwin Kampusi, pendiri Kampusi Promo Event Organizer, salah satu pelopor EO di Kota Medan.

Di Medan sendiri, beberapa tahun terakhir pernah tercatat sebanyak 75 EO yang eksis dan tercatat di Forum EO Medan. Namun, menurut Herwin, setelah krisis global, tak sedikit EO yang hanya tinggal nama. Hal ini setidaknya menunjukkan bahwa persaingan EO di tengah krisis, mengharuskan para pelaku EO dituntut lebih inovatif sehingga mampu menjaga kepercayaan klien. Dan, ternyata, tidak banyak EO yang mampu melakukan itu.

Menurut Herwin, sebenarnya hal ini bisa disiasati. Pera pelaku EO harus pandai-pandai menangkap peluang yang ada. Sejauh ini, untuk Medan sendiri, kebanyakan EO masih banyak yang berkutat pada event yang berbau hiburan (konser musik) saja. Padahal, sebenarnya, masih ada peluang yang terbuka luas untuk para pelaku EO.

“Untuk saat, misalnya, di Medan belum ada EO yang benar-benar fokus untuk ‘wedding’ dan ‘child’. Ada sih ada, tapi sifatnya masih belum fokus. Nah, untuk pelaku EO yang masih merambah, sebenarnya peluang ini masih sangat terbuka luas. Pemainnya masih sedikit. Dan, pasar masih terbuka luas,” jelas Herwin, yang sudah menjalankan EO Kampusi Promo, sejak tahun 1987 itu.

Herwin, memberi gambaran, sebenarnya untuk “wedding” tak akan ada matinya. Sebab, klien yang menjadi target adalah mereka yang benar-benar punya persiapan budget. Apalagi, di tengah kesibukan kota, orang lebih memilih menyerahkan langsung urusan pernikahan kepada EO.

“Yang jelas, orang yang ingin menikah pasti sudah mempersiapkan budgetnya jauh-jauh hari. Tinggal bagaimana selanjutnya sebuah EO merancang konsep pernikahan yang semenarik mungkin. Sehingga para calon klien tertarik untuk memakai jasa mereka,” jelas Herwin.

Begitu juga dengan peluang EO untuk event yang berbau dengan dunia anak-anak. Untuk ulang tahun, misalnya, bagaimana caranya pelaku EO menciptkan konsep acaranya dengan menarik, dengan harga yang masih relatif terjangkau, tapi acaranya bisa berkesan dengan pihak berulang tahun.

“Sekarang kan, banyak orang yang menggelar ulang tahun di restoran, yang budgetnya pasti mahal. Nah, sekarang bagaimana EO membuat konsep acara ulang tahun dengan budget yang lebih murah, tapi konsep acaranya tak kalah menarik,” ujar Herwin.

Gedung Pertunjukan

Terlepas dari peluang itu, menurut Herwin, salah satu yang menyebabkan masih terhambatnya sektor bisnsi di bidang EO di Medan, ialah belum memadainya sarana infrastruktur, seperti gedung pertunjukan berkapastitas minimal 10 ribu pengunjung.

“Sebenarnya Medan sudah pantas memiliki gedung pertunjukan berkapasitas sebesar itu. Medan adalah kota terbesar ketiga di Indonesia. Apalagi, tahun ini pemerintah telah mencanangkan tahun 2009 sebagai Tahun Industri Kreatif. Dan salah satu syarat agar kota ini bisa menjadi kota M.I.C.E, ya, salah satunya dengan menyediakan sarana itu. Kalau tidak, MEdan tidak akan ada apa-apanya dibanding kota lain,” katanya.

Popularity: 1% [?]

Berita Cerita Berkaitan

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>