Petugas Kantor Wilayah (Kanwil) Bea Cukai Sumatera Utara (Sumut) menggagalkan upaya penyelundupan 1.029 batang kayu gelondongan dan 27 ekor burung dilindungi, ke Sumut melalui Pelabuhan Belawan. Humas Kanwil Bea Cukai Pelabuhan Belawan, Amri mengungkapkan, sebelumnya ribuan kayu gelondongan dan puluhan burung dilindungi tersebut dibawa dengan menggunakan kapal tongkang. “Kapal ini berasal dari Pulau Buru, Maluku,” ujar Amri, Senin (15/4/2019). Amri mengatakan, pengungkapan kasus ini berawal dari informasi yang diperoleh petugas dari masyarakat. Disebutkan, ada sebuah kapal tongkang yang membawa satwa dilindungi di Pelabuhan Belawan. Menindaklanjuti laporan tersebut, petugas kemudian memeriksa muatan tongkang. Hasilnya, petugas menemukan 1.029 batang kayu gelondongan pesananan salah satu industri kayu di daerah ini. Selain itu, petugas juga menemukan puluhan burung di palka kapal yang diduga kuat satwa dilindungi. “Burung yang ditemukan petugas terdiri atas 23 ekor burung kasturi, 4 ekor burung kakak tua jambul kuning, serta satu ekor burung nuri. Seluruhnya satwa dilindungi,” ujar Amri. Dari temuan tersebut, petugas Kanwil Bea Cukai Sumut langsung berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). Kemudian, dengan Balai Gakkum Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk memproses kasus kayu geondongan dan satwa dilindungi tersebut. “Sementara itu, 10 orang anak buah kapal dari kapal tongkang tersebut masih dalam penyelidikan petugas Bea Cukai,” ujarnya. Sumber : https://www.inews.id/daerah/sumut/bea-cukai-sumut-amankan-1029-kayu-dan-27-ekor-burung-dilindungi/516897

Petugas Kantor Wilayah (Kanwil) Bea Cukai Sumatera Utara (Sumut) menggagalkan upaya penyelundupan 1.029 batang kayu gelondongan dan 27 ekor burung dilindungi, ke Sumut melalui Pelabuhan Belawan.

Humas Kanwil Bea Cukai Pelabuhan Belawan, Amri mengungkapkan, sebelumnya ribuan kayu gelondongan dan puluhan burung dilindungi tersebut dibawa dengan menggunakan kapal tongkang. “Kapal ini berasal dari Pulau Buru, Maluku,” ujar Amri, Senin (15/4/2019). Amri mengatakan, pengungkapan kasus ini berawal dari informasi yang diperoleh petugas dari masyarakat. Disebutkan, ada sebuah kapal tongkang yang membawa satwa dilindungi di Pelabuhan Belawan.
Menindaklanjuti laporan tersebut, petugas kemudian memeriksa muatan tongkang. Hasilnya, petugas menemukan 1.029 batang kayu gelondongan pesananan salah satu industri kayu di daerah ini.

Selain itu, petugas juga menemukan puluhan burung di palka kapal yang diduga kuat satwa dilindungi. “Burung yang ditemukan petugas terdiri atas 23 ekor burung kasturi, 4 ekor burung kakak tua jambul kuning, serta satu ekor burung nuri. Seluruhnya satwa dilindungi,” ujar Amri.

Dari temuan tersebut, petugas Kanwil Bea Cukai Sumut langsung berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). Kemudian, dengan Balai Gakkum Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk memproses kasus kayu geondongan dan satwa dilindungi tersebut. “Sementara itu, 10 orang anak buah kapal dari kapal tongkang tersebut masih dalam penyelidikan petugas Bea Cukai,” ujarnya.

Sumber : https://www.inews.id/daerah/sumut/bea-cukai-sumut-amankan-1029-kayu-dan-27-ekor-burung-dilindungi/516897

Sebanyak 30 ton bawang merah layak konsumsi dihibahkan kepada empat pemerintah daerah di Provinsi Aceh, untuk disampaikan kepada masyarakat kurang mampu. Bawang merah tersebut merupakan barang bukti sitaan dari Bea Cukai Kuala Langsa, Aceh. . Penyerahan hibah bawang merah oleh Bea Cukai Kuala Langsa itu digelar di halaman Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Aceh, Banda Aceh, Selasa (19/3). Empat pemerintah kabupaten/kota yang menerima hibah tersebut Pemerintah Kota Langsa, Banda Aceh, Pemerintah Kabupaten Aceh Jaya dan Aceh Besar. . Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean C Kuala Langsa, Mochamad Syuhada, menyebutkan total perkiraan nilai barang hibah tersebut lebih dari Rp 822 juta. Bawang merah itu muatan eks Kapal Motor (KM) Anak Kembar GT 25 No 321/QQd. “Jumlahnya ada 3.200 karung, ini barang bukti atas upaya tindak pidana penyelundupan di bidang kepabeanan yang berhasil digagalkan oleh tim Bawah Kendali Operasi Kantor Wilayah DJBC Aceh dan Kepri,” ujarnya. . Syuhada menyebutkan, petugas dengan menggunakan kapal BC 30005 berhasil mengamankan bawang merah ilegal itu di perairan Ujung Tamiang, Aceh Tamiang, pada 11 Maret 2019. Total kerugian negara dari sektor perpajakan akibat upaya penyelundupan tersebut diperkirakan sebesar Rp 287,7 juta. . Lebih lanjut, ia menyampaikan bawa kegiatan pemberian hibah merupakan komitmen Bea Cukai di Aceh dengan Kejaksaan Tinggi Aceh dan Stasiun Karantina Pertanian Banda Aceh. “Kami berkomitmen memanfaatkan barang hasil penindakan kepabeanan dan cukai dapat dimanfaatkan untuk membantu masyarakat kurang mampu,” pungkasnya. . Sumber : https://m.kumparan.com/acehkini/30-ton-bawang-sitaan-bea-cukai-aceh-dihibahkan-untuk-warga-1552974987291529588?ref=rel

Sebanyak 30 ton bawang merah layak konsumsi dihibahkan kepada empat pemerintah daerah di Provinsi Aceh, untuk disampaikan kepada masyarakat kurang mampu. Bawang merah tersebut merupakan barang bukti sitaan dari Bea Cukai Kuala Langsa, Aceh.
.
Penyerahan hibah bawang merah oleh Bea Cukai Kuala Langsa itu digelar di halaman Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Aceh, Banda Aceh, Selasa (19/3). Empat pemerintah kabupaten/kota yang menerima hibah tersebut Pemerintah Kota Langsa, Banda Aceh, Pemerintah Kabupaten Aceh Jaya dan Aceh Besar.
.
Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean C Kuala Langsa, Mochamad Syuhada, menyebutkan total perkiraan nilai barang hibah tersebut lebih dari Rp 822 juta. Bawang merah itu muatan eks Kapal Motor (KM) Anak Kembar GT 25 No 321/QQd.
“Jumlahnya ada 3.200 karung, ini barang bukti atas upaya tindak pidana penyelundupan di bidang kepabeanan yang berhasil digagalkan oleh tim Bawah Kendali Operasi Kantor Wilayah DJBC Aceh dan Kepri,” ujarnya.
.
Syuhada menyebutkan, petugas dengan menggunakan kapal BC 30005 berhasil mengamankan bawang merah ilegal itu di perairan Ujung Tamiang, Aceh Tamiang, pada 11 Maret 2019. Total kerugian negara dari sektor perpajakan akibat upaya penyelundupan tersebut diperkirakan sebesar Rp 287,7 juta.
.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bawa kegiatan pemberian hibah merupakan komitmen Bea Cukai di Aceh dengan Kejaksaan Tinggi Aceh dan Stasiun Karantina Pertanian Banda Aceh. “Kami berkomitmen memanfaatkan barang hasil penindakan kepabeanan dan cukai dapat dimanfaatkan untuk membantu masyarakat kurang mampu,” pungkasnya.
.
Sumber : https://m.kumparan.com/acehkini/30-ton-bawang-sitaan-bea-cukai-aceh-dihibahkan-untuk-warga-1552974987291529588?ref=rel