Kantor Imigrasi Belawan mengamankan 10 orang warga negara asing di lahan garapan Satria Delapan, Kecamatan Percut Seituan pada Kamis, 24 Januari 2019 kemarin. Ke 10 warga negara asing yang diamankan itu berasal dari Myanmar, lima  diantaranya berasal dari etnis Rohingya dan berstatus sebagai pengungsi. “Mereka yang diamankan semua memegang kartu UNHCR. Mereka mengaku berasal dari Langsa. Kita belum bisa pastikan apakah mereka kabur dari Imigrasi atau Dinas Sosial.,”ucap Kepala Seksi Pengawasan dan Penindakan Imigrasi (Wasdakim) Kelas 2 Belawan, Muhammad Rio, Senin (28/1/2019). . Rio mengatakan 10 warga negara asing itu berhasil diamankan setelah pihak imigrasi menerima informasi dari warga mengenai keberadaan puluhan WNA di salah satu rumah warga di lahan garapan yang ada di sana. . “Kita kesana dan terbukti. Namun waktu kita kesana, warga yang menampung mereka tidak berada di tempat. Pengakuannya, mereka sudah sejak 22 Januari 2019 disana,” urai M Rio. . Ke 10 warga negara asing itu pun dibawa ke Detensi Migrasi di Belawan. Kepada petugas Imigrasi, lanjut Rio, mereka mengaku dijanjikan pergi ke Malaysia oleh seseorang yang membawa mereka ke Sumut. . “Orang yang mengiming-imingi mereka tidak kita temui waktu WNA itu kita amankan. Ya orang Sumut,”sebut Rio. . Untuk menangani 10 WNA ini, pihaknya kata Roy akan berkoordinasi dengan pihak UNHCR. “Karena mereka memegang kartu UNHCR, kita berkoordinasi dengan mereka (UNHCR),” pungkas Rio. . Sumber : http://matatelinga.com/Berita-Sumut/Imigrasi-Belawan-Amankan-10-WNA-di-Lahan-Garapan-di-Percut-Seituan

Kantor Imigrasi Belawan mengamankan 10 orang warga negara asing di lahan garapan Satria Delapan, Kecamatan Percut Seituan pada Kamis, 24 Januari 2019 kemarin. Ke 10 warga negara asing yang diamankan itu berasal dari Myanmar, lima  diantaranya berasal dari etnis Rohingya dan berstatus sebagai pengungsi.
“Mereka yang diamankan semua memegang kartu UNHCR. Mereka mengaku berasal dari Langsa. Kita belum bisa pastikan apakah mereka kabur dari Imigrasi atau Dinas Sosial.,”ucap Kepala Seksi Pengawasan dan Penindakan Imigrasi (Wasdakim) Kelas 2 Belawan, Muhammad Rio, Senin (28/1/2019).
.
Rio mengatakan 10 warga negara asing itu berhasil diamankan setelah pihak imigrasi menerima informasi dari warga mengenai keberadaan puluhan WNA di salah satu rumah warga di lahan garapan yang ada di sana. .
“Kita kesana dan terbukti. Namun waktu kita kesana, warga yang menampung mereka tidak berada di tempat. Pengakuannya, mereka sudah sejak 22 Januari 2019 disana,” urai M Rio.
.
Ke 10 warga negara asing itu pun dibawa ke Detensi Migrasi di Belawan. Kepada petugas Imigrasi, lanjut Rio, mereka mengaku dijanjikan pergi ke Malaysia oleh seseorang yang membawa mereka ke Sumut.
.
“Orang yang mengiming-imingi mereka tidak kita temui waktu WNA itu kita amankan. Ya orang Sumut,”sebut Rio.
.
Untuk menangani 10 WNA ini, pihaknya kata Roy akan berkoordinasi dengan pihak UNHCR. “Karena mereka memegang kartu UNHCR, kita berkoordinasi dengan mereka (UNHCR),” pungkas Rio.
.
Sumber : http://matatelinga.com/Berita-Sumut/Imigrasi-Belawan-Amankan-10-WNA-di-Lahan-Garapan-di-Percut-Seituan

Kantor Imigrasi Belawan, Sumatera Utara (Sumut) mendeportasi 30 orang warga negara Bangladesh ke negara asalnya. Pemulangan para imigran gelap ini akan dilakukan dalam dua tahap. . Kepala Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Belawan, Victor Manurung memaparkan, untuk tahap pertama, Imigrasi menjadwalkan memulangkan 15 orang imigran melalui Bandara Internasional Kualanamu, Kabupaten Deliserdang. Mereka diterbangkan dengan pesawat Batik Air yang dijadwalkan berangkat Jumat (11/1/2018) sore ini, jam 17.00 WIB. . “Sedangkan imigran Bangladesh lainnya akan kami pulangkan pada tahap kedua besok, Sabtu (12/1/2019),” ungkap Victor Manurung di Medan, Jumat (11/1/2019). . Victor memaparkan, ke-30 warga negara Bangladesh itu diamankan oleh personel Polda Sumut pada Desember 2018 lalu di kawasan Tanjung Tiram, Kabupaten Batubara. Mereka rencananya melanjutkan perjalanan ke Malaysia melalui jalur ilegal. . “Warga negara Bangladesh ini masuk ke Indonesia dengan menggunakan bebas visa sesuai Inpres Nomor 21 tahun 2016. Mereka masuk beberapa tahap melalui Bandara Adisutjipto Yogyakarta dan Bandara Ngurah Rai Bali,” papar Victor. . Setelah dideportasi, ke-30 warga negara Bangladesh itu selanjutnya akan dicekal masuk ke Indonesia. “Itu sanksi bagi mereka,” ujar Victor. . Sumber : https://www.inews.id/daerah/sumut/30-warga-bangladesh-dideportasi-imigrasi-belawan-ke-negaranya/426969

Kantor Imigrasi Belawan, Sumatera Utara (Sumut) mendeportasi 30 orang warga negara Bangladesh ke negara asalnya. Pemulangan para imigran gelap ini akan dilakukan dalam dua tahap.
.
Kepala Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Belawan, Victor Manurung memaparkan, untuk tahap pertama, Imigrasi menjadwalkan memulangkan 15 orang imigran melalui Bandara Internasional Kualanamu, Kabupaten Deliserdang. Mereka diterbangkan dengan pesawat Batik Air yang dijadwalkan berangkat Jumat (11/1/2018) sore ini, jam 17.00 WIB.
.
“Sedangkan imigran Bangladesh lainnya akan kami pulangkan pada tahap kedua besok, Sabtu (12/1/2019),” ungkap Victor Manurung di Medan, Jumat (11/1/2019).
.
Victor memaparkan, ke-30 warga negara Bangladesh itu diamankan oleh personel Polda Sumut pada Desember 2018 lalu di kawasan Tanjung Tiram, Kabupaten Batubara. Mereka rencananya melanjutkan perjalanan ke Malaysia melalui jalur ilegal.
.
“Warga negara Bangladesh ini masuk ke Indonesia dengan menggunakan bebas visa sesuai Inpres Nomor 21 tahun 2016. Mereka masuk beberapa tahap melalui Bandara Adisutjipto Yogyakarta dan Bandara Ngurah Rai Bali,” papar Victor.
.
Setelah dideportasi, ke-30 warga negara Bangladesh itu selanjutnya akan dicekal masuk ke Indonesia. “Itu sanksi bagi mereka,” ujar Victor.
.
Sumber : https://www.inews.id/daerah/sumut/30-warga-bangladesh-dideportasi-imigrasi-belawan-ke-negaranya/426969

Bule-bule seringkali dipandang sambil mendongak oleh orang Indonesia. Bukan karena kebanyakan orang kulit putih itu punya postur lebih tinggi, melainkan karena bule dipandang relatif lebih makmur dan sejahtera ketimbang orang Indonesia. . “Mindset masyarakat kita itu ‘londo itu sugih (bule itu kaya)’. Ini yang perlu diubah,” kata Kepala Bagian Humas dan Umum Ditjen Imigrasi, Agung Sampurno, kepada detikcom, Rabu (28/2/2018). . Agung paham betul jenis-jenis bule yang datang tanpa kejelasan dana. Bukannya rasis, tapi memang banyak bule yang ditolak masuk gara-gara gagal meyakinkan pihak Imigrasi di bandara bahwa mereka benar-benar punya sangu yang cukup selama di Indonesia. . “Tahun lalu (2017) ada 6.000 orang kita tolak masuk ke Indonesia. Salah satu sebabnya saat kita wawancarai, mereka tidak bisa menunjukkan tiket kepulangan dan tidak bisa menunjukkan jumlah uang untuk biaya hidup dia (di Indonesia),” kata Agung. . Untuk masyarakat di kawasan pariwisata, pemandangan bule yang keleleran sudah bukan hal langka. Di Bali, banyak bule backpacker yang memang senang berpergian dengan ongkos cekak. Ada pula yang memang bergaya hidup hippie, keliling negara-negara Asia, namun tanpa bekal materi yang memadai. . “Yang paling sering kita temukan itu dari Eropa Timur, hippies, dia motifnya keliling Asia. Bahkan dari negara maju juga. Menurut mereka sensasi traveling-nya berbeda dengan yang tinggal di hotel. Modelnya traveler ngemper,” kata Agung. . Namun bila sudah dipastikan bahwa bule itu terlantar, Imigrasi akan tegas untuk meneruskan informasi keberadaan warga negara asing tersebut ke kedutaan besar negara bule yang bersangkutan. Pihak Imigrasi-lah yang memutuskan bule itu dipulangkan. Bisakah bule yang bersangkutan menolak dipulangkan? . “Nggak bisa. Yang memutuskan adalah Imigrasi,” kata Agung. . Sumber : Sumber : https://m.detik.com/news/berita/d-3889507/imigrasi-pemerintah-tak-akan-biayai-bule-yang-kehabisan-ongkos [Bersambung dikomentar]

Bule-bule seringkali dipandang sambil mendongak oleh orang Indonesia. Bukan karena kebanyakan orang kulit putih itu punya postur lebih tinggi, melainkan karena bule dipandang relatif lebih makmur dan sejahtera ketimbang orang Indonesia.
.
“Mindset masyarakat kita itu ‘londo itu sugih (bule itu kaya)’. Ini yang perlu diubah,” kata Kepala Bagian Humas dan Umum Ditjen Imigrasi, Agung Sampurno, kepada detikcom, Rabu (28/2/2018).
.
Agung paham betul jenis-jenis bule yang datang tanpa kejelasan dana. Bukannya rasis, tapi memang banyak bule yang ditolak masuk gara-gara gagal meyakinkan pihak Imigrasi di bandara bahwa mereka benar-benar punya sangu yang cukup selama di Indonesia.
.
“Tahun lalu (2017) ada 6.000 orang kita tolak masuk ke Indonesia. Salah satu sebabnya saat kita wawancarai, mereka tidak bisa menunjukkan tiket kepulangan dan tidak bisa menunjukkan jumlah uang untuk biaya hidup dia (di Indonesia),” kata Agung.
.
Untuk masyarakat di kawasan pariwisata, pemandangan bule yang keleleran sudah bukan hal langka. Di Bali, banyak bule backpacker yang memang senang berpergian dengan ongkos cekak. Ada pula yang memang bergaya hidup hippie, keliling negara-negara Asia, namun tanpa bekal materi yang memadai.
.
“Yang paling sering kita temukan itu dari Eropa Timur, hippies, dia motifnya keliling Asia. Bahkan dari negara maju juga. Menurut mereka sensasi traveling-nya berbeda dengan yang tinggal di hotel. Modelnya traveler ngemper,” kata Agung.
.
Namun bila sudah dipastikan bahwa bule itu terlantar, Imigrasi akan tegas untuk meneruskan informasi keberadaan warga negara asing tersebut ke kedutaan besar negara bule yang bersangkutan. Pihak Imigrasi-lah yang memutuskan bule itu dipulangkan. Bisakah bule yang bersangkutan menolak dipulangkan?
.
“Nggak bisa. Yang memutuskan adalah Imigrasi,” kata Agung.
.
Sumber : Sumber : https://m.detik.com/news/berita/d-3889507/imigrasi-pemerintah-tak-akan-biayai-bule-yang-kehabisan-ongkos
[Bersambung dikomentar]