Matahari menghasilkan 3,86 x 10 ^ 26 watt energy. Jumlah yang sangat besar tentunya. Pernahkan Anda pikirkan apa yang terjadi jika Matahari tidak lagi menghasilkan panas? Jawabnya, ketika matahari mati, dia akan berubah menjadi bola kristal yang sangat besar. Ketika bintang mati, mereka akhirnya menjadi benda putih dan bukti baru menemukan, benda putih akhirnya mengkristal seiring waktu. Begitu pula dengan matahari. . “Ini adalah bukti langsung bagaimana proses transisi dari cair ke padat,” kata Dr. Pier-Emmanuel Tremblay dari Departemen Fisika Universitas Warwick, seperti dilansir dari Fox News, Minggu (13/1). . “Diperkirakan lima puluh tahun yang lalu, kita bisa mengamati penumpukan bintang mati pada luminositas dan warna tertentu karena kristalisasi dan baru sekarang ini diamati,” tambahnya. Data dikumpulkan oleh Gaia Badan Antariksa Eropa dan dianalisis selama rentang lima tahun. Setidaknya, sudah ada 15.000 bintang mengkristal yang jaraknya sekitar 330 tahun cahaya dari Matahari. . “Bila dibandingkan dengan model evolusi bintang, tumpukan bintang yang mengkristal bertepatan dengan fase dalam perkembangan mereka di mana panas laten diprediksi akan dilepaskan dalam jumlah besar, yang mengakibatkan perlambatan proses pendinginan.” . “Diperkirakan, dalam beberapa kasus, bintang-bintang ini telah memperlambat penuaan mereka hingga 2 miliar tahun, atau 15 persen dari usia galaksi kita.” . Sumber : http://m.analisadaily.com/read/matahari-jadi-bola-kristal-raksasa-saat-mati/677488/2019/01/13

Matahari menghasilkan 3,86 x 10 ^ 26 watt energy. Jumlah yang sangat besar tentunya. Pernahkan Anda pikirkan apa yang terjadi jika Matahari tidak lagi menghasilkan panas? Jawabnya, ketika matahari mati, dia akan berubah menjadi bola kristal yang sangat besar.
Ketika bintang mati, mereka akhirnya menjadi benda putih dan bukti baru menemukan, benda putih akhirnya mengkristal seiring waktu. Begitu pula dengan matahari.
.
“Ini adalah bukti langsung bagaimana proses transisi dari cair ke padat,” kata Dr. Pier-Emmanuel Tremblay dari Departemen Fisika Universitas Warwick, seperti dilansir dari Fox News, Minggu (13/1).
.
“Diperkirakan lima puluh tahun yang lalu, kita bisa mengamati penumpukan bintang mati pada luminositas dan warna tertentu karena kristalisasi dan baru sekarang ini diamati,” tambahnya.
Data dikumpulkan oleh Gaia Badan Antariksa Eropa dan dianalisis selama rentang lima tahun. Setidaknya, sudah ada 15.000 bintang mengkristal yang jaraknya sekitar 330 tahun cahaya dari Matahari.
.
“Bila dibandingkan dengan model evolusi bintang, tumpukan bintang yang mengkristal bertepatan dengan fase dalam perkembangan mereka di mana panas laten diprediksi akan dilepaskan dalam jumlah besar, yang mengakibatkan perlambatan proses pendinginan.”
.
“Diperkirakan, dalam beberapa kasus, bintang-bintang ini telah memperlambat penuaan mereka hingga 2 miliar tahun, atau 15 persen dari usia galaksi kita.”
.
Sumber : http://m.analisadaily.com/read/matahari-jadi-bola-kristal-raksasa-saat-mati/677488/2019/01/13

Badan Antariksa Amerika Serikat(AS) atau NASA telah meluncurkan kendaraan luar angkasa yang akan mengamati Matahari dari jarak terdekat yang pernah ada. Kendaraan luar angkasa NASA ini akan menjalani misi pertama NASA dalam ‘menyentuh Matahari’. . Parker Solar Probe yang berukuran sebesar mobil kecil ini, telah diluncurkan dengan roket besar bernama Delta IV-Heavy dari Cape Canaveral di Florida, AS pada Minggu (12/8) sekitar 03.30 waktu setempat. Misi yang dijalani Parker Solar Probe akan berlangsung selama tujuh tahun ke depan. Kendaraan luar angkasa ini terbang dengan kecepatan mencapai 692 ribu kilometer per jam. . Kendaraan luar angkasa NASA ini akan terbang hingga mendekati korona Matahari dalam jarak 3,8 juta mil atau 6,1 juta kilometer dari permukaan Matahari. Jarak itu tercatat tujuh kali lipat lebih dekat dibandingkan pesawat-pesawat luar angkasa lainnya yang melakukan misi serupa. . Korona Matahari memicu yang namanya angin surya (solar wind), yang merupakan aliran partikel bermuatan atau plasma yang menyebar ke segala arah dari atmosfer terluar Matahari. Angin surya yang tidak bisa diprediksi itu mampu memicu gangguan pada bidang magnetis planet kita dan bisa mengacaukan teknologi komunikasi di Bumi. . Dalam misi ini, Parker Solar Probe harus bisa bertahan menghadapi suhu dan radiasi panas luas biasa. Pesawat luar angkasa telah dipasangi pelindung panas yang dirancang untuk menjaga instrumen-instrumen yang ada di dalamnya tetap ada dalam suhu 29 derajat Celsius, meskipun bagian luar pesawat berhadapan dengan suhu hingga 1.370 derajat Celsius

Badan Antariksa Amerika Serikat(AS) atau NASA telah meluncurkan kendaraan luar angkasa yang akan mengamati Matahari dari jarak terdekat yang pernah ada. Kendaraan luar angkasa NASA ini akan menjalani misi pertama NASA dalam ‘menyentuh Matahari’.
.
Parker Solar Probe yang berukuran sebesar mobil kecil ini, telah diluncurkan dengan roket besar bernama Delta IV-Heavy dari Cape Canaveral di Florida, AS pada Minggu (12/8) sekitar 03.30 waktu setempat. Misi yang dijalani Parker Solar Probe akan berlangsung selama tujuh tahun ke depan. Kendaraan luar angkasa ini terbang dengan kecepatan mencapai 692 ribu kilometer per jam.
.
Kendaraan luar angkasa NASA ini akan terbang hingga mendekati korona Matahari dalam jarak 3,8 juta mil atau 6,1 juta kilometer dari permukaan Matahari. Jarak itu tercatat tujuh kali lipat lebih dekat dibandingkan pesawat-pesawat luar angkasa lainnya yang melakukan misi serupa.
.
Korona Matahari memicu yang namanya angin surya (solar wind), yang merupakan aliran partikel bermuatan atau plasma yang menyebar ke segala arah dari atmosfer terluar Matahari. Angin surya yang tidak bisa diprediksi itu mampu memicu gangguan pada bidang magnetis planet kita dan bisa mengacaukan teknologi komunikasi di Bumi.
.
Dalam misi ini, Parker Solar Probe harus bisa bertahan menghadapi suhu dan radiasi panas luas biasa. Pesawat luar angkasa telah dipasangi pelindung panas yang dirancang untuk menjaga instrumen-instrumen yang ada di dalamnya tetap ada dalam suhu 29 derajat Celsius, meskipun bagian luar pesawat berhadapan dengan suhu hingga 1.370 derajat Celsius

Gerhana bulan total yang akan terjadi 28 Juli 2018 tergolong cukup spesial. Sebab pada saat itu bakal terjadi gerhana bulan total dengan durasi terlama sepanjang abad ini. . Data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan gerhana 28 Juli nanti dimulai pukul 00.13 WIB. Kemudian gerhana total mulai terjadi pada pukul 02.30 WIB. Lalu puncak gerhana terjadi pada pukul 03.22 WIB. Rangkaian gerhana bulan total bakal berakhir pada pukul 06.30 WIB. . Dari kronologi fase-fase itu, maka durasi keseluruhan gerhana bulan total mencapai 103 menit. BMKG juga melaporkan seluruh wilayah Indonesia dapat mengamati fenomena gerhana bulan total terlama itu. Untuk wilayah Jawa, Bali, dan sebagian Kalimantan serta Sumatera, gerhana bulan total akan teramati dari awal sampai gerhana sebagian berakhir. . Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin menjelaskan penyebab lamanya durasi gerhana bulan total 28 Juli nanti. Dia mengatakan durasi fase gerhana bulan total mulai 02.30 sampai 04.13 atau sekitar 103 menit. . ’’Waktu yang lama itu terjadi karena jarak bulan terhadap bumi (pada titik, Red) terjauh,’’ katanya saat dihubungi tadi malam (9/7). Kemudian pada saat itu lintasan bulan hampir di tengah bayangan bumi. . Sehingga bulan berada dalam bayangan bumi lebih lama. Akibatnya gerhana bulan total bakal teramati dalam durasi waktu yang lama pula. . Dia mengatakan selama ini durasi gerhana bulan total berbeda-beda. Bergantung pada jarak bulan ke bumi dan lintasannya. Dia mengatakan kalau lintasan bulan berada di pinggir bayangan bumi, maka gerhana bulan total hanya terjadi beberapa menit saja. . Lebih lanjut data BMKG menyebutkan gerhana bulan total dengan durasi 106 menit pernah terjadi pada 16 Juli 2000 lalu. Kemudian gerhana bulan total dengan durasi 106 menit bakal terjadi kembali pada 9 Juni 2123. Tetapi saat itu tidak teramati dari Indonesia. . Sumber : https://m.jpnn.com/amp/news/gerhana-bulan-total-28-juli-2018-terlama-abad-ini

Gerhana bulan total yang akan terjadi 28 Juli 2018 tergolong cukup spesial. Sebab pada saat itu bakal terjadi gerhana bulan total dengan durasi terlama sepanjang abad ini.
.
Data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan gerhana 28 Juli nanti dimulai pukul 00.13 WIB. Kemudian gerhana total mulai terjadi pada pukul 02.30 WIB. Lalu puncak gerhana terjadi pada pukul 03.22 WIB. Rangkaian gerhana bulan total bakal berakhir pada pukul 06.30 WIB.
.
Dari kronologi fase-fase itu, maka durasi keseluruhan gerhana bulan total mencapai 103 menit. BMKG juga melaporkan seluruh wilayah Indonesia dapat mengamati fenomena gerhana bulan total terlama itu. Untuk wilayah Jawa, Bali, dan sebagian Kalimantan serta Sumatera, gerhana bulan total akan teramati dari awal sampai gerhana sebagian berakhir.
.
Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin menjelaskan penyebab lamanya durasi gerhana bulan total 28 Juli nanti. Dia mengatakan durasi fase gerhana bulan total mulai 02.30 sampai 04.13 atau sekitar 103 menit.
.
’’Waktu yang lama itu terjadi karena jarak bulan terhadap bumi (pada titik, Red) terjauh,’’ katanya saat dihubungi tadi malam (9/7). Kemudian pada saat itu lintasan bulan hampir di tengah bayangan bumi.
.
Sehingga bulan berada dalam bayangan bumi lebih lama. Akibatnya gerhana bulan total bakal teramati dalam durasi waktu yang lama pula.
.
Dia mengatakan selama ini durasi gerhana bulan total berbeda-beda. Bergantung pada jarak bulan ke bumi dan lintasannya. Dia mengatakan kalau lintasan bulan berada di pinggir bayangan bumi, maka gerhana bulan total hanya terjadi beberapa menit saja.
.
Lebih lanjut data BMKG menyebutkan gerhana bulan total dengan durasi 106 menit pernah terjadi pada 16 Juli 2000 lalu. Kemudian gerhana bulan total dengan durasi 106 menit bakal terjadi kembali pada 9 Juni 2123. Tetapi saat itu tidak teramati dari Indonesia.
.
Sumber : https://m.jpnn.com/amp/news/gerhana-bulan-total-28-juli-2018-terlama-abad-ini