Gula Membunuh 35 Juta Orang Per Tahun
MEDAN – “Gula itu mirip racun dan penggunaannya harus diatur seperti rokok dan alkohol,” begitu laporan para peneliti dari University of Carolina, Amerika Serikat di laporan yang dipublikasikan dalam jurnal kesehatan, Nature.
Dalam laporan tersebut juga dikatakan, gula merupakan penyebab kematian sekitar 35 juta orang di dunia per tahun.
Saking berbahayanya, para peneliti menyarankan agar penggunaan gula dibatasi melalui hukum dan pajak.
Disebutkan pula dalam artikel bertajuk The Toxic Truth About Sugar, sedikit gula masih aman, tetapi bila dikonsumsi dalam jumlah banyak, gula menjadi pembunuh kejam, pelan tapi pasti.
Gula merupakan salah satu penyebab obesitas, dan kini masalah obesitas lebih parah ketimbang masalah malnutrisi dunia.
Gula tak hanya menyebabkan kegemukan, tetapi juga mengubah metabolisme tubuh, meningkatkan tekanan darah, merusak keseimbangan hormon, dan menyakiti organ hati.
Kerusakan oleh gula mirip efek yang terjadi akibat minum terlalu banyak alkohol (yang memang terbuat dari penyulingan gula).
Peneliti juga berpendapat, pendidikan mengenai pola makan sehat saja tidak akan cukup untuk membuat orang mengurangi konsumsi gula.
Menurut para peneliti ini, butuh aturan baku untuk membatasi konsumsi orang terhadap gula, termasuk dalam hal peningkatan pajak untuk makanan yang mengandung gula tinggi, seperti minuman bersoda, kudapan manis, dan sebagainya.
Saat ini tanggung jawabnya ada pada produsen makanan, namun kemungkinan terbesar mereka akan menolak perubahan komposisi makanannya, maka harapan perubahannya tinggal ada pada peraturan makanan yang diatur baku.
Mengenai laporan ini, perwakilan perkumpulan pelaku industri makanan dan minuman di Inggris, Barbara Gallani menyayangkan tuduhan langsung terhadap gula ini.
Menurutnya, jangan melihat masalah penyakit-penyakit mematikan itu hanya pada gula, karena kematian akibat penyakit bisa terjadi akibat multisebab.
“Kuncinya adalah menyeimbangkan kesehatan, konsumsi makanan yang bervariasi, ditambah aktivitas fisik yang cukup (untuk menjaga tubuh tetap sehat),” kata Gallani. (Berita Satu)
Popularity: 1% [?]
RSS Feeds
Twitter
Facebook
E-Mail














