Harga crude palm oil (CPO) atau minyak sawit mentah di Rotterdam pada pengapalan Agustus berada di posisi US$ 895 per metrik ton (MT) atau naik US$ 17,5 per MT. Dengan kondisi ini, posisi CPO hampir menembus posisi US$ 900 per metrik. Menguatnya harga CPO kembali lagi dipengaruhi beberapa faktor, beberapa di antaranya adalah naiknya permintaan.
Bendahara Gabungan Perusahaan Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Sumut Laksamana Adiyaksa mengatakan, naiknya harga juga dipengaruhi sikap trader, yang memilih mengambil posisi ‘short position’ setelah stok di bulan Juli 2009 diperkirakan lebih rendah dari 1,39 juta ton.
“Selain itu, diperkirakan impor minyak sawit Bangladesh naik 7 persen dibandingkan 1,4 juta ton di tahun 2009. Harga minyak kedelai dan rape juga mengalami kenaikan, begitu juga dengan minyak bumi yang sudah di kisaran level US$ 82 per barrel,” papar Laksamana, di Medan, Jumat (6/8).
Di samping pengaruh tersebut, faktor jelang puasa akan dimulai minggu depan juga menjadi salah satu penyebabnya. Permintaan minyak sawit di pasar dunia dan lokal, dipastikan turut tergenjot karena kebutuhan, sehingga perkiraan harga CPO bakal terus naik.
“Harga masih berpotensi naik. Apalagi, jelang musim dingin di negara Eropa juga tak lama lagi,” ucap Laksamana menjawab kemungkinan kembali menguatnya harga CPO dunia.
Menurut Laksamana, dengan terdongkraknya harga komoditi CPO diharapkan berdampak positif terhadap semakin membaiknya harga tandan buah segar (TBS) petani. Apalagi, jika CPO masih berpeluang terus menguat, maka harga buah petani berpotensi ikut terimbas naik.
“Harusnya buah petani ikut bagus, karena CPO semakin membaik harganya,” tukas eksekutif Raja Garuda Mas ini.
Di tempat terpisah, Sekjen DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Asmar Arsjad menuturkan, posisi harga TBS berdasarkan penetapan tim harga TBS Sumut pada Rabu (4/8) lalu mengalami kenaikan yakni di Rp 1.453,64 naik dari pekan lalu di Rp 1.401,50 per kilo.
“Itu harga petani, masih dipotong ongkos pengakutan, kadar kotor buah. Bisa sekitar Rp 1.300 an di petani,” jelas Asmar, lantas menambahkan harga tim penetapan merupakan acuan bagi seluruh petani plasma.
Asmar mengatakan, dengan posisi harga saat ini, petani sudah menerima keuntungan lebih, mengingat biaya produksi petani hanya berkisar Rp 800 per kilo. Jika harga sudah mencapai di atas Rp 1.000 per kilo, maka petani mengantongi margin lebih besar dari seharusnya.
Popularity: 1% [?]
RSS Feeds
Twitter
Facebook
E-Mail












