Harga crude palm oil (CPO) kian terdongkrak menyusul tingginya demand di pasar dunia. Pada penutupan Jumat lalu (30/7), misalnya posisi minyak sawit mentah sudah berada di level US$ 840 per metrik ton. Bandingkan dengan penutupan perdagangan Ranbu (28/7) di posisi US$ 837,5 atau naik dari sebelumnya di Selasa (27/7) di US$ 832,5 per metrik ton.
Bendahara Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Sumut Laksamana Adiyaksa mengakui, bahwa trend kenaikan harga CPO dunia terjadi seiring permintaan pasar luar negeri yang terus meningkat.
“Kenaikan itu dipicu beberapa hal, misalnya pengaruh musim panas di Amerika Serikat berdampak pada panen kedelai. Selain itu, akibat menguatnya harga minyak bumi, sudah dekatnya bulan puasa, sehingga Malaysia mengurangi produksi,” papar Laksamana, Senin (2/8), di Medan.
Menurut Laksamana, trend kenaikan CPO sepenuhnya pengaruh kurangnya suplai dan bertambahnya demand pada salah satu komoditi minyak nabati dunia itu. Apalagi, menjelang musim dingin di Eropa, diperkirakan harga CPO bakal terus merangkak naik. Sebagai sumber energi bahan baku nabati termurah, maka CPO dipastikan tetap menjadi incaran para buyer.
“Makanya kemungkinan harga tetap bertahan di kisaran saat ini, meski cenderung menguat terus,” ucapnya optimis.
Jika CPO bergerak naik perlahan, sebaliknya harga sawit tak kunjung seperti harapan petani. Malah, harga tandan buah segar terimbas masa panen raya yang secara serentak berlangsung di sejumlah sentra produksi. Di Langkat, misalnya, harga buah petani berkisar Rp 1.200 per kilo, di Tapsel Rp 1.300 per kilo. Namun, di Aceh, harga pembelian petani masih Rp 980 per kilo.
Menyikapi, trend penurunan harga buah, Laksamana berpendapat bahwa penuhnya stok pabrik kelapa sawit (PKS) akibat panen besar, tidak bisa dipungkiri berdampak pada pergerakan harga buah petani.
“Hanya saat ini jika dibandingkan dengan CPO dunia, sepertinya posisi pembelian masih wajar. Mungkin yang perlu diperhatikan jika, terdapat perbedaan jauh antara pembelian petani dengan penetapan pembelian harga pemerintah. Kalau masih batas toleransi, tak terlalu masalah. Lain halnya jika ‘spread’nya cukup jauh. Berarti ada penekanan,” jabar Laksamana.
Secara terpisah, petani kelapa sawit asal Aceh Sumardi Syarief mengakui, jika harga TBS relatif turun semenjak masa panen besar, yang diperkirakan bakal berlanjut hingga Oktober mendatang.
“Di Aceh, harga saat ini berkisar Rp 980 per kilo tertinggi. Tapi, gitu pun petani tetap dodos karna jika harga segitu, masih bisa untung sikitlah. Yang gak ada untung ‘kan kalau harga sekitar Rp 800,” jelasnya.
Sumardi juga menyakini, kondisi tersebut tidak akan berlangsung dalam jangka waktu lama, mengingat trend permintaan CPO seiring beberapa momen penting dalam jangka beberapa bulan ke depan.
Popularity: 1% [?]
RSS Feeds
Twitter
Facebook
E-Mail












