10
February , 2012
Friday
jjgrosir
Pamera mobil
macanlink-web-600px
blackberry shop
kartu diskon
kost modern medan
macan delivery
<< >>
Posted by Dedi Coky | Medan Talk On October - 15 - 2010

jjgrosir

Prediksi bahwa harga crude palm oil (CPO) menembus posisi US$ 1.000 per metrik ton akhirnya mejadi kenyataan. Harga CPO di market Rotterdam mencapai US$ 1.000 pada penutupan Kamis (14/10), setelah sebelumnya pada (8/10), harga CIF Rotterdam di posisi US$ 945 per metrik ton.

“Akhirnya perkiraan harga CPO tercapai juga di posisi US$ 1.000. Penguatan harga ini dipicu oleh beberapa hal,” ucap Bendahara Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Sumut Laksamana Adiyaksa, di Medan, Kamis (14/10/2010).

Menurutnya, pencapaian harga CPO di posisi tersebut disebabkan panen jagung dan kedele serta stok lebih rendah dibanding perkiraan. Sebaliknya, lanjut dia, permintaan menunjukan gejala peningkatan.

Selain itu, dia kembali mengemukakan, produksi minyak sawit Malaysia berdasarkan data MPOB di September turun 2,72 persen menjadi 1,563 juta ton dibanding 1,607 juta ton pada Agustus. Sedangkan ekspor naik 21,6 persen di September menjadi 1,468 juta ton dibandingkan 1,211 juta ton di Agustus.

“Ekspor negara tetangga itu terutama ke Cina dan India diperkirakan akan berlanjut dalam bulan ini khususnya India, dalam menghadapi hari raya Devapali,” ucapnya.

Meski begitu, menurutnya, seluruh stake holder mesti tetap berupaya keras menghalau black campaign yang terus digencarkan Uni Eropa terhadap sawit Indonesia, untuk memertahankan posisi harga. Jika tidak, sambung dia, dikhawatirkan harga tinggi itu hanya akan bertahan hingga November.

Sebelumnya, Dewan Penasehat Gapki Derom Bangun telah mengemukakan posisi harga CPO yang sudah bertahan cukup tinggi di kisaran US$ 900 per metrik ton, dan bakal menembus angka US$ 1.000 per metrik kton.

Perkiraan adanya lonjakan permintaan, namun tidak diimbangi dengan suplai produksi minyak sawit mentah itu di pasar komoditi membuat harga akan mencapai level tertinggi sepanjang tahun 2010.

Menurut Derom, penguatan harga sudah mulai dirasakan sejak Agustus lalu, seiring meningkatnya permintaan atas komoditi itu. Peningkatan signifkan, sambung dia, paling dirasakan dari pasar India dan Cina. Kedua negara itu sangat dominan dari sisi permintaan, karena tak lepas dari pulihnya kondisi perekonomian negara berpenduduk besar tersebut.

Dijelaskannya, sebelumnya permintaan minyak nabati dunia bisa ditutupi dari sumber lainnya seperti kedelai dan canola. Namun, Brazil salah satu produsen minyak nabati lainnya cenderung memakai jagung, sebagai bahan baku bio etanol.

“Luas tanaman kedelai tak tambah malah dikonversi ke tanaman jagung. Canola juga diserap habis untuk penggunaan bio diesel di Eropa, karena dinilai lebih ramah lingkungan dibandingkan kelapa sawit. Diperkirakan mengurangi emisi gas di atas 35 persen, sedangkan sawit 19 persen,” terangnya.

Kurangnya perimbangan produksi canola untuk suplai pangan, di tengah lonjakan permintaan membuat CPO menjadi pilihan. Naiknya harga CPO juga diperkuat adanya prediksi permintaan akhir tahun yang terus naik, dan penurunan produksi Malaysia dan Indonesia, akibat cuaca.

Popularity: 1% [?]

Berita Cerita Berkaitan

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Silakan Berikan Komentar




Copyright by: MedanTalk.com | SiteMap | Twitter | Facebook | Contact | Supported by: MedanKu | Macan Group | All rights reserved Worldwide.