Cuaca tinggi yang mencapai 36 derajat celcius beberapa hari belakangan ini di Kota Medan ternyata membawa rezeki bagi sejumlah pedagang kipas angin dan ac (air conditioner) di Medan. Sejumlah pedagang bahkan mengalami kenaikan omzet hingga 50 persen. Wow!
Asiong, salah satu pedangang elektronik di Pasar Petisah mengaku, permintaan kipas angin naik tajam, berlangsung sejak sebulan belakangan. Bahkan pada dua pekan terakhir, penjualan kipas angin kian laris manis saja.
“Sebulan ini sudah terjual lebih dari 40 unit. Padahal, biasanya pada saat normal, paling hanya 20 unit saja,” ucap pria berambut cepak ini sambil melempar senyum, Selasa (13/4), di Medan.
Jenis kipas paling banyak dicari, jelas dia, adalah kipas angin berdiri, dengan banderol harga sekitar Rp 190 ribu hingga Rp 250 ribu per unit. Sedangkan merek, kata dia, umumnya tergantung selera konsumen.
“Paling laris merek yang sudah mereka kenal, atau rekomendasi dari teman maupun keluarga. Tapi yang pasti, mereka beli alasannya karna cuaca panas,” paparnya.
Kondisi sama turut diungkap salah seorang penjaga toko Super Sonic Electronic di Jalan Gatot Subroto, yang enggan disebutkan namanya. Pria berperawakan sedang ini mengaku permintaan alat pendingin udara (AC) cukup besar dalam beberapa pekan terakhir.
“Wah, gara-gara cuaca panas, jadi banyak yang beli AC. Seminggu ini saja sudah laku lebih dari 10 unit. Karna gak tahan panas, makanya rame-rame beli AC,” ujar pria bermata sipit ini.
Jenis AC paling banyak dicari, kata dia, berkekuatan ½ hingga 1 PK, dengan harga di kisaran Rp 3 juta-Rp 3,5 juta per unit, tergantung merek alat pendingin ruangan tersebut.
Branch Manager PT Sharp Electronic Cabang Medan Petrus Kwandang mengakui, adanya trend kenaikan penjualan cukup signifikan terhadap produk elektronik terutama AC dan lemari es.
“Penjualan AC cukup baik. Setelah gempa, memang terjadi peningkatan suhu luar biasa. Khusus AC dan lemari es, ada naik 50%,” ucap Petrus.
Meski tak merinci kuantiti kenaikan produk dimaksud, menurutnya kenaikan penjualan produk elektronik secara umum memang terjadi. Sharp, sebut dia, mencatat peningkatan market hingga di angka 30% pada kuartal I tahun 2010 dibandingkan 2009, pada periode sama.
Naiknya market Sharp di Kota Medan, tambah dia, mendorong terdongkraknya market share merek itu hingga mencapai 25%.
“Kondisi dollar stabil, penguatan hasil bumi seperti komoditi kelapa sawit, karet sangat berpengaruh pada permintaan produk elektronik,” katanya,
Popularity: 1% [?]
RSS Feeds
Twitter
Facebook
E-Mail












