Penderitaan para ibu rumah tangga di Kota Medan semakin lengkap lah sudah. Bagaimana tidak, sudahlah harganya mahal, gas semakin susah pula didapat di Medan. Setidaknya itulah yang dirasakan para ibu di Kecamatan Medan Amplas dan Medan Kota.
Tiga hari memasuki tahun baru 2010 (1-3 Januari) para ibu mengeluh. Gas/elpiji tabung, baik ukuran 3 kg maupun yang 15 kg sulit didapat di pedagang eceran. Situasi ini tentu saja bertolak belakang dengan program pengalihan pemakaian (konversi) minyak tanah ke penggunaan gas tabung yang gencar disosialisasikan pemerintah.
Dengar saja keluhan Kartini, 40 tahun, warga Jalan Garu I, Kelurahan Harjosari, Kecamatan Medan Amplas. Sejak Jumat (1/1) siang hingga Minggu (3/1) siang, ibu setengah baya ini bolak-balik mencari gas di toko pengecer. Namun jawaban yang didapatnya selalu sama, “Gas habis!” Keruan saja ini membuat Kartini kecewa.
“Ya mau bilang apa lagi. Terpaksalah memasak sementara ini pakai kayu bakar dan balok kayu yang ada di rumah. Sekarang ini lebih sulit cari gas daripada beras. Apa artinya pemerintah suruh kita pakai gas kalau ternyata kosong di pasaran. Apa yang bisa hemat kalau kek gini. Minyak tanah langka, sekarang gas payah nyarinya. Mau apa sih sebenarnya Pertamina itu?” kesal Kartini. Sebelum memakai gas 3 kg, ia biasanya menggunakan minah sebagai bahan bakar untuk memasak.
Atun, 40 tahun, warga Jalan Air Bersih, Kelurahan Sudirejo, Kecamatan Medan Kota juga pusing. Atun yang pedagang gorengan ini terpaksa mencari gas sampai ke Jalan AR. Hakim, Jalan Bromo, bahkan hingga ke kawasan Pajak Sukaramai.
Atun mengaku, meski harga gas melonjak hingga Rp 30.000/tabung 3 kg, dia terpaksa membelinya. “Kalau tidak, kekmana saya jualan,” ujar Atun. Dijelaskannya, harga gas ukuran 15 kg dijual sampai Rp 125.000, padahal harga normalnya di kisaran harga Rp 70.000.
”Dulu untuk mendapatkan tabung gas ini sulit. Sekarang, sudah kami pakai gas tabung, kok jadi sulit cari gas. Pemerintah janganlah siksa kami lagi!” tutur Atun kesal.
Protes, Warga Memasak Pakai Kayu
Karena kelangkaan gas ini, sekitar 500 Kepala Keluarga (KK), warga di kawasan Jalan Air Bersih Medan, Kelurahan Sudirejo, Kecamatan Kota, Minggu (3/1) siang, menggelar unjukrasa memasak dengan memakai kayu bakar. Aksi ini dilakukan di pinggiran Jalan Air Bersih Ujung, tak jauh dari lapangan bola kaki SSB Patriot.
Menurut warga, aksi ini sebagai bentuk penolakan program konversi minyak tanah (minah) ke gas. Pemerintah memang sudah membagikan kompos dan tabung gas 3kg. Sayangnya, masyarakat takut menggunakan kompor gas pemberian PT. Pertamina ini.
“Kami takut pakai gas, bisa terbakar rumah kami,” ujar Atun di hadapan Camat Medan Kota, Usman Mansyur, Lurah Sudirejo, Budiyah, dan Kepling, Syahroni.
Warga menuntut masalah krisis minah ini secepatnya diselesaikan pemerintah (Pertamina). Warga mendesak harga minyak tanah kembali stabil ke harga semula kisaran Rp 3.000,- per liternya. “Sekarang minyak tanah payah. Kalaupun ada, harganya mahal sampai Rp 7.000 hingga Rp 8.000 per liternya,” kata Tutik, ibu rumah tangga (Laporan/Foto: Fuzi)
Popularity: 1% [?]
RSS Feeds
Twitter
Facebook
E-Mail












