
Di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia dan Medan tentunya, jutaan orang menantikan kesempatan untuk bisa menyaksikan hujan meteor Leonid. Sayang, Leonid tidak terlihat di atas langit Kota Medan. Setidaknya belum ada laporan yang menyebutkan seperti itu.
Tadi malam, sejumlah facebooker’s meninggalkan pesan di account medanfans yang menyebutkan bahwa mereka juga sedang menantikan “penampakan” Leonid di langit Medan. “Wah udah jam segini, belum terlihat juga,” ujar Nixon Marbun, seorang fesbuker. Ia mempostingkan pesan itu sekitar pukul 02.00 WIB dini hari tadi. Padahal, langit Medan dini hari tadi cukup cerah.
Dari Bandung, dilaporkan lima meteor menunjukkan dirinya di langit Lembang, Bandung, Jawa Barat. “Sempat terlihat 5 meteor sejak pukul 12.30,” ujar karyawan Observatorium Boscha, Muhammad Irfan kepada detikcom, Rabu (17/11).
Menurut Irfan, peristiwa yang indah itu hanya terlihat sesaat karena langit sedang mendung. Lima meteor itu terlihat di tengah bongkahan awan. “Kalau cerah terlihat lebih banyak,” katanya. Irfan mengimbau kepada masyarakat yang ingin menyaksikan Leonid untuk keluar rumah dan melihat langit di lingkungannya. “Bisa dilihat hingga matahari terbit, sekitar pukul 06.00 WIB pagi,” kata Irfan.
Namun, biar tidak mengakibatkan rasa penasaran dan menjawab kebenaran info yang sudah kami lansir sebelumnya, Anda bisa melihat foto-foto yang menunjukkan penampakan Leonid di beberapa negara.
Sebelumnya, berita mengenai hujan meteor tahunan ini ramai diperbincangkan di internet. Disebut hujan meteor Leonid karena meteor-meteor yang melesat muncul dari pusat radian di atas rasi bintang Leo. Bulan November ini, rasi bintang ini bisa dilihat di arah Timur Laut pada malam hari. Hujan meteor Leonid berasal dari serpihan-serpihan komet Tempel-Tuttle yang tertinggal saat mendekati Matahari setiap 33 tahun sekali. Saat serpihan-serpihannya melintasi atmosfer Bumi, ia akan terbakar dan terlihat sebagai meteor.
Dikatakan, tempat pengamatan terbaik ada di Asia, juga Amerika Utara, jika cuaca memungkinkan. “Kami prediksi 20-30 meteor per jam di atas langit Amerika dan sebanyak 200-300 meteor per jam di langit Asia,” ujar Bill Cooke, pejabat di Meteoroid Environment Office NASA.

Ukuran serpihan-serpihan berupa debu dan es itu rata-rata tak lebih besar dari butiran pasir. Namun, ada beberapa yang sebesar biji kacang atau kelereng. Namun, karena arah gerak serpihan-serpihan itu berlawanan dengan gerakan Bumi, kecepatan meteor yang melesat bisa mencapai 72 kilometer per jam dan kadang-kadang membentuk jalur cahaya yang panjang dengan rona cahaya putih, biru, atau hijau.
Jumlah meteor yang melesat setiap tahun berubah-ubah tergantung bagian yang bersinggungan dengan atmosfer Bumi. Tahun ini diperkirakan lebih banyak meteor yang terlihat dibandingkan tahun lalu. Namun, pemandangan paling spektakuler pernah terjadi antara tahun 1999 dan 2002 saat ribuan meteor bisa dilihat dalam setiap jam sehingga mirip badai meteor.
Bagaimana, apakah Anda menyaksikannya? (Berbagai sumber)
Popularity: 2% [?]
RSS Feeds
Twitter
Facebook
E-Mail













Kenji Says:
Bercak2 merah dadu yang difoto pertama itu apaan sih? DIfoto kedua, dibagian kiri atas juga ada bercak merah dadu tersebut. Apa sih sebenarnya?
Posted on November 18th, 2009 at 12:51 PM