Komunikasi Murah, Jangan (Lagi) Ada Dusta di Antara Kita
28/12/2010 in Business
Oleh: James P. Pardede
Kemajuan teknologi informasi khususnya teknologi di bidang komunikasi semakin memudahkan semua orang untuk menjalin silaturahmi. Jarak antara Medan dengan Singapura seperti tak ada sekat lagi. Teknologi komunikasi juga semakin memudahkan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dalam meningkatkan hasil penjualan serta keuntungannya. Segala jenis usaha saat ini semakin bergairah dengan hadirnya teknologi komunikasi.
Seperti diungkapkan Fadli (22) seorang penjual sayur keliling di sebuah komplek perumahan di Medan. Pagi-pagi sekali, sekitar pukul 06.00 WIB Fadli sudah masuk ke kawasan perumahan di Medan untuk melayani pembelinya. Menurut Fadli, sayur, ikan, kelapa parut dan yang lainnya yang ia jajakan adalah pesanan dari penghuni perumahan yang menelepon sehari sebelumnya. Hampir rata-rata, ibu-ibu di komplek perumahan memiliki nomor HP Fadli hanya untuk mengingatkan atau memberitahukan agar pesanan mereka jangan lupa dibawa.
“Biasanya, ibu-ibu di komplek perumahan menelepon saya agar tidak lupa membawakan udang basah 1 kilo, tahu, tempe atau bawa sayur daun ubi serta rimbangnya,” papar Fadli.
Komunikasi yang terjalin antara Fadli dengan ibu-ibu penghuni perumahan di Medan menunjukkan sebuah sinergi yang saling menguntungkan (simbiosis mutualisme). Dimana, ibu-ibu diuntungkan dengan kemudahan tidak harus ke pasar tradisional dan Fadli juga mendapat keuntungan ganda karena usahanya berjalan lancar tanpa harus pusing memikirkan jualannya laku atau tidak. Karena, hampir keseluruhan bahan belanja yang ia belikan dipasar adalah pesanan dari ibu-ibu di kawasan perumahan.
Kemudahan lain yang dirasakan masyarakat saat ini adalah kemudahan mendapatkan info terbaru lewat akses internet di genggaman, kemudahan bertutur kata sekadar mengucapkan selamat ulang tahun kepada teman-teman yang berulang tahun lewat facebook atau twitter, berbisnis lewat internet dan mengakses email tanpa batas.
Teknologi komunikasi telah membuat jarak semakin dekat. Seiring berjalannya waktu, perkembangan teknologi informasi di Indonesia juga dibarengi dengan makin banyaknya perusahaan penyedia layanan komunikasi (operator selular) yang berlomba-lomba meluncurkan inovasi terbaru mereka. Tujuannya hanya satu, memanjakan pelanggan dan memberikan mereka banyak pilihan.
Dengan banyaknya pilihan, ke depan masyarakat akan semakin selektif dalam memilih penyedia layanan komunikasi. Tinggal bagaimana perusahaan penyedia layanan memberikan pelayanan terbaik untuk merebut simpati masyarakat agar memilih produk unggulan mereka.
Telekomunikasi Murah
Era ledakan teknologi informasi dan telekomunikasi bisa jadi momentum bagi transisi masyarakat, menjadi masyarakat yang berbasis ilmu pengetahuan (knowledge based society). Masyarakat berbasis ilmu pegetahuan adalah yang mampu mengakses, memanfaatkan dan menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam kehidupannya. Transformasi masyarakat ini tentu saja merupakan kerja besar, memerlukan kerja keras dan komitmen baik dari pemerintah maupun insan telekomunikasi.
Bentuk konkret yang akan dirasakan oleh masyarakat adalah telekomunikasi murah. Iklim tekonologi murah dipadu dengan kebijakan pemerintah yang tepat, tentu akan mendorong perkembangan pelaku usaha nasional, termasuk pengusaha menengah maupun pengusaha kecil. Dengan persaingan yang semakin ketat, operator mulai melakukan penurunan tarif telepon ke sesama operator, SMS dan tarif murah untuk BlackBerry. Tapi apakah tarif murah akan membuat kualitas layanan jadi murahan ?
Logikanya, semakin banyak pelanggan yang menggunakan layanan suatu operator maka ini menunjukkan kepuasan pelanggan terhadap layanan tersebut. Meskipun begitu, beberapa operator harus tetap berhati-hati melakukan penurunan harga. Terutama untuk layanan BlackBerry harus mempertimbangkan berapa besar biaya yang harus diberikan kepada pihak RIM. Meskipun begitu, strategi penurunan tarif tetap menjadi salah satu siasat untuk menumbuhkan minat pelanggan.
Diperkirakan, pasar BlackBerry di Indonesia akan terus naik. Pada awal kehadirannya, pengguna layanan BlackBerry masih terbatas pada segmen tertentu saja. Tapi sekarang sangat berbeda, anak-anak SD atau SMP saat ini jika diberi pilihan soal ponsel, mereka sebagian besar pasti minta dibelikan BlackBerry. Pasar memang lagi booming. Semua operator memang memiliki minat yang tinggi di lahan ini.
Perkembangan teknologi informasi mampu menggeser media komunikasi dari kebutuhan sekunder atau tersier menjadi kebutuhan primer. Sekarang hampir seluruh elemen kelas masyarakat telah memiliki ponsel sebagai bagian dari kebutuhan dan gaya hidup. Tak peduli seorang pejabat negara, pengusaha, mahasiswa, pelajar hingga tukang sayur keliling hampir dapat dipastikan merupakan pengguna ponsel.
Meski sama-sama memiliki ponsel, pasti terdapat perbedaan penggunaan fasilitas antar pengguna ponsel itu. Sebagian konsumen cukup puas dengan menggunakan fasilitas pesan pendek (sms) dan panggilan telepon (voice call), namun sebagian konsumen lainnya sangat membutuhkan koneksi internet melalui jaringan GPRS maupun 3G. Tak heran jika para operator ponsel terus memperbanyak fitur dengan tarif bersaing.
Seperti diutarakan seorang ibu rumah tangga, Gustina, HP baginya sangat penting untuk berkomunikasi dengan suami terutama saat bertugas ke luar kota. Lantas ! Bagaimana rasanya ketika mahluk bernama handphone diambil dari keseharian Anda ? Seorang pedagang air minum isi ulang di sebuah kawasan sangat tertolong dengan adanya HP di dalam genggamannya. Cukup dengan SMS singkat, pedagang air minum tinggal mengantar air minum isi ulangnya ke alamat yang dituju.
Kemampuan operator selular dalam membuat iklan yang bagus dan dapat menarik perhatian konsumen bukan hal mudah. Selain kreatifitas perancang iklan, operator seluler juga harus mampu mengenaIi karakteristik sasaran pasar yang ingin dicapai. Salah satu karakteristik masyarakat Indonesia adalah menyukai apa layanan “gratis” dan pemberian bonus cuma-cuma.
Tawaran yang disampaikan melalui iklan-iklan tersebut diharapkan dapat membentuk persepsi positif calon konsumen sehingga membangun intensi untuk mengambil keputusan menggunakan produk mereka. Namun berbagai bonus tersebut seringkali dibatasi oleh syarat dan ketentuan yang berlaku yang tidak dijelaskan dalam iklan.
Konsumen kadang merasa dirugikan ketika mereka tergiur bonus dan tarif murah yang ditawarkan operator seluler dan baru mengetahui berbagai bonus dan tarif murah itu memiliki syarat dan ketentuan berlaku yang berderet-deret setelah mereka telanjur membeli produk itu. Hal ini dapat dikatakan sebagai fenomena pembodohan konsumen. Fenomena pembodohan konsumen ini dapat menjadi ancaman bagi industri seluler masa depan jika terus berlanjut hingga masyarakat kehilangan kepercayaan terhadap operator selular.
Harus Saling Menguntungkan
Perang tarif antar operator seluler yang berakibat semakin rendahnya biaya telekomunikasi sejauh ini selintas memang terlihat menguntungkan masyarakat, namun kenyataannya banyak konsumen yang merasa kualitas dan pelayanan operator seluler yang belum maksimal. Jika perang tarif terus berlanjut tanpa dikendalikan secara rasional, akan dapat merugikan konsumen maupun operator seluler sendiri.
Terkait dengan kualitas layanan, penulis beberapa waktu lalu menghubungi operator selular lewat nomor pelanggan. Kenyataan yang membuat konsumen kesal adalah ketika keinginan untuk mendapatkan jawaban ternyata hanya omong besar belaka. Nomor telepon yang kita call secara rinci menjelaskan keunggulan layanan mereka lewat mesin penjawab. Ketika terhubung dengan customer service, jawaban yang diperoleh tidak memuaskan bahkan membingungkan.
Ke depan, operator selular jangan hanya fokus dalam menwarkan tarif murah dengan bonus-bonusnya sementara layanan yang diperoleh konsumen justru sebaliknya. Komunikasi murah yang ditawarkan operator selular haruslah real dan ”jangan ada dusta dibalik tawaran murahnya.” Itu sebabnya, beberapa langkah strategis bisa ditempuh agar penawaran tarif murah lebih bijak dan menguntungkan semua pihak (simbiosis mutualisme).
Dimulai dari kebijakan pemerintah dalam membuat regulasi yang mengatur batas atas-bawah tarif komunikasi seluler (antar pelanggan maupun antar operator) dengan memperhatikan biaya produksi komunikasi (koneksi, interkoneksi, dan basis teknologi yang digunakan). Adanya regulasi batasan tarif ini akan mengendalikan tarif berada pada koridor yang rasional dan mencegah terjadinya persaingan usaha tidak sehat. Kesenjangan tarif yang tidak terlalu lebar akan membuat semua operator dapat bersaing dalam memberikan kualitas dan layanan maksimal dengan tarif yang rasional.
Kemudian, dengan banyaknya operator seluler, harus melakukan penentuan sasaran pasar yang tepat sehingga strategi yang diterapkan sesuai kebutuhan pasar. Operator seluler harus bersikap jujur dalam membuat iklan-iklan sehingga konsumen tidak merasa terjebak dalam membeli produknya. Transparan dalam menghapus kebohongan dengan mencantumkan syarat dan ketentuan berlaku yang menjebak pelanggan.
Dengan banyaknya tawaran yang diberikan oleh operator selular, konsumen dalam hal ini masyarakat harus bersikap bijak dalam menentukan pilihan produk layanan seluler sesuai kebutuhannya. Masyarakat dituntut selalu bersikap kritis terhadap kebijakan-kebijakan operator seluler sehingga tidak terjebak pada informasi atau iklan-iklan yang menyesatkan. Sebagai konsumen, masyarakat memiliki hak memperoleh kualitas dan layanan maksimal dari operator seluler. Elemen pemerintah, operator seluler maupun masyarakat memiliki peran dalam menjaga eksistensi industri seluler di Indonesia.
Eksistensi industri seluler dapat dibangun dalam persaingan yang sehat antar operator seluler dengan perang tarif yang rasional tanpa mengabaikan kualitas dan layanannya. Dengan terjaganya keharmonisan industri seluler dalam persaingan sehat dapat memberikan keuntungan bagi konsumen untuk memperoleh kualitas layanan maksimal dengan harga kompetitif. Seleksi alam masih tetap berlaku, siapa yang jujur dan transparan dalam memberikan pelayanan akan tetap bertahan dan disukai konsumennya. Yang paling penting adalah jangan (lagi) ada dusta di antara kita.
Popularity: 1% [?]













