Namanya limbah biasanya akan berakhir di pembuangan sampah. Namun berbeda dengan limbah yang satu ini. Di tangan Kusnodin, limbah kaleng ini diolah menjadi karya bernilai seni. Aneka bentuk karya dari kaleng dibuatnya, seperti burung merak, burung kutilang, tupai, serta wayang hanoman.
Warga Dusun Pongangan, Salaman, Magelang, Jawa Tengah, ini sudah merintis usahanya sejak 1987. Bermodalkan keahlian otodidak, lelaki yang pernah menjadi sopir angkot itu mencoba sejumlah kaleng yang terbuang begitu saja. Barang-barang hasil kreativitas sederhana itu pun disukai masyarakat. Apalagi harganya terjangkau, kisaran Rp 75 ribu – Rp 115 ribu. Untuk hasil kerajinan dengan ukuran khusus harganya bisa mencapai Rp 26 juta.
Kusnodin yang berusia 4o tahun itu tak pelit berbagi ilmunya. Ia mengatakan, agar memperoleh hasil yang bagus, kaleng bekas disortir telebih dahulu. Kaleng kemudian dipotong hingga mengulir. Setelah itu, ambil batang kayu sebagai bahan dasar patung hiasan. Kayu yang sudah diukir lantas ditempeli uliran kaleng sehingga membentuk hewan yang dikehendaki.
Kesabaran dan keuletan Kusnodin inilah yang menghantar produknya hingga menembus pasar internasional. Namun demikian, Kusnodin mengaku masih mengalami kendala karena situasi krisis pemasaran global. Ia berharap pemerintah pun memerhatikan usahanya agar bisa berkembang.
Sumber: liputan6
Popularity: 1% [?]
RSS Feeds
Twitter
Facebook
E-Mail












