| 10/12/2009 |
Sebuah pemikiran menarik muncul dari sejarahwan Universitas Negeri Medan, Ichwan Azhari, PhD. Ia menyebutkan bahwa mantan Perdana Menteri RI Amir Sjarifoeddin (3 Juli 1947 – 29 Januari 1948) merupakan tokoh yang cukup kontroversi.
Hal tersebut terkemuka dalam dalam Diskusi Bedah Buku “Amir Sjarifoeddin, Tempatnya dalam Kekristenan dan Perjuangan kemerdekaan RI” berdasarkan tesis Frederiek Djara Willem, yang terselenggara atas kerjasama Yayasan Kajian Informasi Pendidikan dan Penerbitan Sumatera (KIPPAS) dengan Center for Popular Education (CPE) Medan, pada Kamis (10/12) siang, di Sekretariat KIPPAS, di Jalan Sei Serayu Medan.
Menurut Ichwan, hal ini berdasarkan beberapa bukti literatur yang menyinggung keterlibatannya dengan partai komunis Indonesia, sensasi perpindahan keyakinan dari Islam menjadi Kristen, serta upayanya mengungkap bahwa kemerdekaan RI sebagai hadiah dari Jepang.
Kemungkinan kontroversi inilah yang membuat banyak literatur tentang mantan Perdana Menteri Indonesia tersebut dibredel dan dilenyapkan, termasuk buku biografi-nya karangan Frederiek Djara Willem ini, yang pernah diterbitkan pada tahun 1984 silam. Kini dalam upaya untuk menguak dan meluruskan sejarah dengan mempertimbangkan berbagai perspektif buku tersebut diterbitkan kembali oleh tiga penerbit, yaitu Ut Omnes Unum Sint Institute, Jala Penerbit, dan CPE.
Dalam bedah buku oleh Ichwan Azhari (lihat foto) dan J Anto (Direktur Eksekutif KIPPAS, peminat sejarah) yang diikuti sekitar 20-an orang dan berlangsung selama 3 jam tersebut hadir peminat sejarah, penerbit, pelaku sejarah, dan pers. Diskusi tersebut berlangsung cukup seru karena menguarkan sepak terjang dan sisi lain seorang tokoh dan sosok pejuang kemerdekaan RI.
Namun terlepas dari seberapa kontroversialnya Amir Sjarifoeddin, ia tetaplah dipandang sebagai sosok seorang nasionalis yang berada di balik sejarah kemerdekaan dan perjuangan bangsa Indonesia! Kupasan yang menarik berdasarkan literatur ini membawa kita untuk membuka wawasan yang lebih luas terhadap jasa, kepahlawanan, dan dedikasi seorang tokoh sejarah bangsa ini.
Dalam kata lain bahwa sepanjang rezim Orde baru berkuasa, buku-buku sejarah banyak yang ditulis dengan sudut pandang “pemenang” saja. Suara versi dari “orang-orang yang kalah” tidak diberikan ruang sama sekali. Namun berakhirnya Orde Baru suara dari “pelaku sejarah yang kalah” belakangan ini mulai menjadi wacana baru yang muncul ke tengah masyarakat. Inilah yang melatarbelakangi Yayasan Kajian Informasi, Pendidikan, dan Penerbitan Sumatera (KIPPAS) bekerjasama dengan Center for Popular Education (CPE) Medan, menggelar diskusi dan bedah buku terbatas, mengupas buku: “Amir Sjarifoeddin, Tempatnya dalam Kekristenan dan Perjuangan Kemerdekaan RI”, hari itu.* (foto: Frinnie)
Popularity: 1% [?]
RSS Feeds
Twitter
Facebook
E-Mail













nida Says:
makasih buat infonya…
Posted on December 11th, 2009 at 8:54 AM