Mengurai Peluang Bisnis dari Limbah Sampah Plastik

Mengurai Peluang Bisnis dari Limbah Sampah Plastik

SAMPAH plastik menjadi masalah lingkungan yang serius lantaran sulit terurai. Memanfaatkannya menjadi barang-barang yang berguna merupakan salah satu cara mengurangi limbah ini. Di tangan Beni Chandra dan Tominggo, sampah plastik menjadi tambang uang.

Ya, butuh puluhan bahkan ratusan tahun untuk mengurai hingga tuntas sampah plastik secara alami. Tapi, dalam prosesnya, limbah ini akan membuat lingkungan mengalami degradasi.

Proses penguraian partikel-partikel plastik akan mencemari tanah dan air tanah. Kalau dibakar, plastik akan menghasilkan asap beracun yang berbahaya bagi kesehatan. Terutama jika pembakaran tidak sempurna.

Asap yang dihasilkan dari pembakaran plastik akan terurai di udara sebagai dioksin. Bila terhirup, bisa memicu penyakit kanker, hepatitis, pembengkakan hati, gangguan sistem saraf, sampai depresi.

Namun, kalau dibiarkan, sampah-sampah plastik yang dibuang ke sungai akan menyumbat aliran air sehingga mengakibatkan banjir dan merusak turbin waduk. Sebab, “Limbah plastik sulit dicerna oleh tanah,” kata Beni Chandra, jebolan Jurusan Fisika Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 2006.

Melihat dampak negatif dari sampah plastik, Beni pun berpikir keras, bagaimana caranya memanfaatkan limbah itu. Apalagi, di Bandung, sampah beginian banyak berserakan di sembarang tempat.

Pada 2005, Beni yang lahir tahun 1984 mulai mengumpulkan sampah plastik berupa kantong kresek dari tempat sampah di sekitar pertokoan di Kota Kembang. “Saya yakin kantong kresek memiliki potensi besar jika diolah,” ujarnya.

Berbekal ilmu yang ia dapat selama di bangku kuliah, Beni kemudian mengolah kantong kresek menjadi bijih plastik. Soalnya, produk hasil daur ulang ini banyak diburu perusahaan plastik. Agar bisa memproduksi secara massal, ia mencari bantuan modal sebesar Rp 200 juta.

Dana ini dia pakai untuk menyewa lahan di Desa Ciganiti, Buah Batu, Bandung. Selain itu, Beni juga membeli mesin pencacah plastik, menyewa mobil bak pengangkut, hingga menggaji 15 tenaga kerja. “Sisanya, untuk modal pembelian sampah kantong kresek Rp 1.000 per kilogram,” katanya.

Beni tak sulit untuk menjual bijih plastik buatannya. Terlebih, banyak distributor dan pabrik plastik di Kawasan Industri Cicaheum, Cimahi, Bandung yang sangat membutuhkan pasokan bahan baku daur ulang plastik itu.

Beni menjual bijih plastiknya seharga Rp 3.000 per kilogram. Ia mampu mengantongi keuntungan bersih minimal Rp 4,5 juta sebulan, setelah dikurangi biaya operasional termasuk menggaji 15 karyawan rata-rata Rp 700.000 per orang.

Permintaan yang tinggi membuat Beni harus menambah kemampuan produksi bijih plastiknya. Saat ini, ia memiliki empat mesin bijih plastik. “Tapi, mesin-mesin ini masih belum sepenuhnya memenuhi pasokan bahan baku yang pabrik plastik pesan,” ujarnya.

Karena itu, Beni berencana menambah mesin yang juga bisa mendongkrak keuntungannya menjadi sebesar Rp 12 juta per bulan.

Tetapi, tak puas hanya memproduksi bijih plastik saja, Beni pun mulai membuat lampu hias juga dari sampah plastik. “Sekarang, produk saya ini sudah dipasarkan seharga Rp 200.000 per lampu,” katanya.

Sayang, Beni masih tidak mau membuka mulut soal hasil yang ia dapat termasuk detail produk lampu hiasnya. “Masih sangat baru,” kata dia berkilah.

Beni tak sendiri. Tominggo dengan mengibarkan bendera usaha Prima Rukun Sejahtera di Surabaya juga mengolah limbah plastik. Namun, ia menyulap sampah-sampah plastik bekas, seperti bungkus kopi, pewangi pakaian alias softener, minuman instan, sampo, dan sabun cuci piring menjadi pelbagai macam kerajinan cantik.

Tominggo mengumpulkan limbah plastik dan kemudian merendamnya di dalam air. Tujuannya, untuk membebaskan sampah plastik dari kotoran yang menempel. Setelah bersih dan dipotong-potong sesuai dengan kebutuhan, plastik itu lalu dijahit menjadi beraneka kerajinan, semisal tas, tempat pensil, sarung ponsel, sandal, kotak tisu, rak sepatu, serta bermacam hiasan ruangan.

Meski dari limbah, dengan segala keunikannya, produk kerajinan ini mampu menarik minat konsumen. “Tren ramah lingkungan akan terus meningkat, sehingga prospek usaha kerajinan ini masih luas,” kata Tominggo.

Pangsa pasar yang tadinya hanya sebatas komunitas pecinta lingkungan, kini berkembang luas hingga ke semua kalangan.

Untuk memperluas pasar kerajinannya, Tominggo banyak mempromosikan produknya melalui pameran-pameran dan internet. Cara ini sangat efektif. Terbukti, ia bisa mengantongi omzet per bulan mencapai Rp 45 juta. “Produk kerajinan dari bahan dasar plastik bekas itu saya jual dari mulai harga Rp 20.000 hingga Rp 40.000 per buah,” ujar dia.

Setelah menekuni usaha ini selama 8 tahun, wilayah pemasaran Prima Rukun Sejahtera sudah mencakup seluruh Indonesia, kecuali Papua dan Sulawesi.

Menurut Tominggo, usahanya ini merupakan salah satu upaya untuk mengurangi limbah plastik yang bayak berserakan terutama di Surabaya seminimal mungkin. “Selain pemakaian kembali atau reuse, juga bisa daur ulang atau recycle,” katanya. Di Indonesia sendiri, pemanfaatan limbah plastik skala kecil umumnya dengan pemakaian kembali plastik untuk keperluan berbeda.

Tominggo mencontohkan, pemakaian kembali tempat cat dari plastik untuk pot atau ember. Tapi, pemakaian kembali plastik juga mempunyai sisi negatif terutama karena sering digunakan untuk pemalsuan produk.(Sumber:Kontan)

0
Like
Save

Comments

syafaruddin says:

pak bisa minta info untuk menjadi seorang wirausahawan dari sampah plastik baik harga mesin pengolahan maupun informasi pembeli atau perusahaan penerima daur ulang sampah plastik.tks.
infonya sy tunggu by telp atau sms ke 082148882309.

Silakan Berbagi / Komentar

%d bloggers like this: