9
February , 2012
Thursday
jjgrosir
Pamera mobil
macanlink-web-600px
blackberry shop
kartu diskon
kost modern medan
macan delivery
<< >>
Posted by Dedi Coky | Medan Talk On October - 2 - 2009

jjgrosir

By: Dedi Coky | Medan Talk

Kehadiran Graha Maria Annai Velangkanni di Kota Medan memberikan pesona tersendiri. Orang-orang datang ke sana untuk mereguk nilai pluralisme beragama. Tak salah jika menyebutnya sebagai salah satu objek wisata religius kebanggaan Medan.

avSORE itu di sebuah taman mini, di Graha Maria Annai Velangkanni tampak beberapa ibu-ibu sedang berdiri membaca sebuah ukiran di dinding. Di dinding taman yang diberi nama Taman Mini Santo Giovanni Paolo II itu terukir kalimat terakhir yang pernah diucapkan Musafir dari Polandia Paus Johannes Paulus II: ”Magnificat Animo Dei.”

Di tempat lain di graha itu, beberapa remaja juga terlihat sedang menikmati suasana. “Di sini sejuk dan damai,” kata Joni (23) dan Ida (20), yang baru kali pertama berkunjung. Nurlela (31) lebih sering lagi. Baginya, tempat ini memberi inspirasi. FR James Bharataputra SJ sendiri menjuluki tempat ini sebagai oase di “padang gurun.”

Memasuki Graha Maria Anna Velangkanni di Jl Sakura III No 10 Tanjung Selamat memang suatu pengalaman menarik. Berada di sudut Kota Medan dan jauh dari kebisingan. Di lokasi seluas 6.000 meter persegi orang-orang dapat menikmati kenyamanan dan kesejukan. Di sini setidaknya tertangkap sebuah makna yang pantas diteladani, harmonsasi di antara pluralitas. Semua orang datang untuk “berteduh” di sini, dari berbagai keyakinan dan budaya.

Secara khusus, tempat ini memang diperuntukkan bagi umat Katolik yang hendak melakukan devosi kepada Bunda Maria. Kenyataannya, orang-orang yang berkunjung ke tempat ini datang dari keyakinan yang berbeda seperti Hindu, Islam dan Buddha. Di sisi lain, pertemuan antar budaya dan etnis juga terjadi di sini. “Raju” bersapa dengan “A Seng”, “Ali” bersapa dengan “Togar”, “Sembiring” bersapa dengan “Joko” dan seterusnya dan seterusnya.

Mereka bersatu dan bersahabat di sini. Setidaknya mereka datang untuk menikmati kesejukan taman yang adem secara spiritual. Dan yang pasti keharmonisan terjalin di sini. Ini pantas menjadi teladan, melihat saat ini negara kita sedang dihadapkan dengan konflik yang dilatari agama dan suku seperti yang terjadi di Poso, yang bahkan telah menelan korban jiwa.

Sumatera Utara boleh bangga. Peristiwa seperti itu masih jauh, dan semoga tidak. Graha Bunda Maria Anna Velangkanni dapat dijadikan sebagai wadah pemersatu antar umat beragama di Tanah Air, khususnya di Sumatera Utara. Seperti yang diucapkan sang pencetus ide FR James Bharataputra SJ, “manusia adalah sama sebagai ciptaan Tuhan.”

“Tempat ini menawarkan nilai persatuan itu meski dengan keyakinan yang berbeda.” Seorang India dari Serikat Jesuit (SJ) yang telah berkarya selama 34 tahun di Keuskupan Agung Medan itu berkomentar. Memang, seperti kata James kemudian, seperti oase, graha ini hadir sebagai pelepas dahaga ketika “kekeringan” sedang terjadi. Kesibukan sehari-hari di era modernisasi saat ini mungkin telah membuat orang jenuh dan membutuhkan kesejukan. Untuk itu tempat ini hadir bagi siapa saja, mengundang siapa saja, tanpa pandang bulu untuk merasakan keteduhan sebab tempat ini hadir untuk menyatukan perbedaan.

James mengatakan pembangunan graha ini diawali dari mimpi. “Saya adalah pemimpi hal yang indah-indah, demikian juga dengan hati manusia, saya ingin agar hati setiap orang yang datang ke tempat ini menjadi indah, hati indah yang memiliki kesejukan dan kedamain.”

Inilah yang mengilhami pemikiran James yang masih terlihat bersemangat itu meski usianya kini telah mencapai 69 tahun. Ingatannya pun masih tajam. Pengalaman James hidup di lingkungan budaya Hindu semasa kecil tetap melekat meski ia hidup dengan disiplin Katolik dari kedua orangtuanya. Keharmonisan di antara perbedaan itu memberinya inspirasi untuk mendirikan sebuah graha seperti Velangkanni Shirine yang sudah ada sejak 350 tahun lalu. Dan kini mimpi itu menjadi kenyataan.

Jika melihat dengan utuh model bangunan yang berdiri di atas lahan seluas 6.000 meter persegi itu, maka yang tertangkap imajinasi adalah nuansa budaya Hindu-Islam. Gaya arsitektur yang diaplikasikan adalah desain bangunan gaya Indo-Mogul yang ngetren di era Kerajaan Mongolia Kuno dulu.

Namun demikian, Pastor James menepis anggapan bahwa tempat ziarah spiritual itu dikhususkan bagi umat Kristen atau budaya tertentu saja. “Saya juga ingin mempersatukan budaya segala bangsa melalui tempat ini,” katanya.

“Pintu Graha Bunda Maria Anna Velangkanni terbuka bagi setiap keyakinan dan budaya untuk mengalami kesejukan iman dari Sang Pencipta karena pada dasarnya ide pendirian graha ini berangkat dari mukjizat yang dialami oleh umat Hindu di India tepatnya di Vailangkanni, sebuah dusun kecil di pesisir Tanjung Bengala bagian India Selatan, di mana mereka mengalami peristiwa penampakan Bunda Maria. Nah, hal itulah yang menginspirasikan berdirinya graha ini.”

James bercerita, pada pertengahan abad-17 atau sekitar 350 tahun yang lalu di Velangkanni, Bunda Maria menampakkan dirinya sebanyak tiga kali. Waktu itu jauh sebelum Maria menampakkan dirinya di Goa Lourdess Prancis dan Portugal. Pada awalnya, Velangkanni Shrine yang ada di India sekarang adalah sebuah kapel kecil. Kemudian dibangun kembali oleh pelaut asal Portugis yang sebelumnya mengalami hempasan badai. Kapal mereka yang hendak menuju Maccau dari Eropa melalui lautan Sri Langka terombang-ambing. Namun mereka akhirnya selamat setelah melakukan devosi kepada Bunda Maria dan dalam devosi itu mereka berjanji akan mendirikan sebuah gereja di mana saja kapal mereka akan berlabuh dengan selamat. Herannya, kapal mereka berlabuh di Velangkanni. Mereka pun menepati janjinya.

Kemudian di tempat ini, sekitar 90 kilometer dari Chennai, Tamil Nadu India, orang-orang yang sakit datang berdoa dan disembuhkan. Nama “Maria Annai”pun diberi yang dalam Bahasa Tamil berarti “bunda”. Tempat ini menarik hati orang-orang dari berbagai bangsa dan kepercayaan mana pun untuk berziarah. Sejak saat itu pula tempat itu dijuluki “Lourdess Timur” dan diangkat statusnya sebagai basilika oleh Sri Paus Yohannes ke-23.

“Saya ingin peristiwa seperti di Velangkanni juga terjadi di Indonesia, kalau bisa diawali dari Kota Medan,” katanya. Pembangunan graha itu pun dimulai pada September 2001. “Saya mulai dengan keyakinan yang teguh bahwa mimpi saya akan terwujud,” kata Pastor James tersenyum.

Pada tahun 2000 Uskup Mgr A G Pius Datubara OFMCap meminta James untuk mendirikan sebuah balai pertemuan khusus untuk orang-orang India Tamil yang tersebar di Kota Medan. James kemudian menyetujuinya dan mengusulkan agar di tempat itu juga didirikan sebuah tempat devosi kepada Bunda Maria. “Dengan demikian kita bisa membina orang dengan imannya,” katanya.

Berawal dari keyakinan pembangunan pun dimulai. Setelah mengurus proses perizinan pendirian pondasi pun dilakukan. Soal dana, James mengatakan ia tak pernah ragu. Pembangunan pun berlanjut. James mengumpamakan, Tuhan sebagai panitia, Bunda Maria menjadi penyedia dana dan ia sendiri sebagai orang yang dihunjuk sebagai pelaksanaanya.

Dalam proses pembangunan, James mengatakan ia dibantu oleh Ir Yohannes Tarigan seorang dosen di Fakultas Teknik di USU dan UNIKA St Thomas Medan selaku konsultan yang menawarkan jasanya dengan gratis. Selama empat tahun akhirnya bangunan selesai dikerjakan. “Saya selalu yakin mimpi saya akan terwujud,” katanya

Soal dana pembangunan James mengaku banyak dibantu banyak pihak, termasuk dari pihak yang berbeda keyakinan. 60 persen berasal dari dalam negeri dan selebihnya dari luar negeri.

Popularity: 2% [?]

Berita Cerita Berkaitan

You can leave a response, or trackback from your own site.

Silakan Berikan Komentar




Copyright by: MedanTalk.com | SiteMap | Twitter | Facebook | Contact | Supported by: MedanKu | Macan Group | All rights reserved Worldwide.