Meski dagangannya tidak banyak terjual malah terkadang rugi, seorang ibu bernama Susanti tetap mempertahankan usaha penjualan pernak-pernik khas Ramadhan berupa “ketupat raksasa” yang terbuat dari plastik, di Jalan Sisingamangaraja, Kota Medan. . Elvi mengatakan, sudah 3 tahun berjualan di bulan Ramadhan, namun baru di tahun ini ia merasakan tidak adanya peminat yang cukup tinggi. . “Setiap menjelang lebaran saya menjual ini, yah kadang laku, kadang gak tergantung rezeki yang dikasih Allah,” tutur Elvi kepada Publika, Sabtu (2/6/2018). . Saat ditanya berapa omset yang didapat, ia menjelaskan bahwa yang didapatnya dari hari pertama Ramadhan sampai hari terakhir paling besar adalah Rp. 2-3 juta. . “Selama sebulan tidak banyak yang saya dapatkan hanya 3 juta rupiah, itupun kadang hanya balik modal karena ada yang menjualkan tapi ujung-ujungnya tidak seperti yang diharapkan,” keluhnya. . Lebih lanjut dikatakannya, usaha ini digelutinya semata-mata ingin mempertahankan kerajinan yang menjadi tradisi untuk menghiasi rumah umat Muslim di Hari Raya Idul Fitri. . “Untuk ukuran yang besar saya jual Rp. 25.000 yang sedang Rp. 15.000, sedangkan yang paling kecil Rp. 10.000,” jelanya. . Evi berharap masyarakat tetap melirik dan mempertahankan kerajinan yang telah ada sejak lama itu, jangan sampai hilang dikikis perkembangan zaman. . “Kalau bukan kita dek, siapa lagi yang mempertahankan kerajinan ini,” demikian Elvi. . Sumber : http://publika.co.id/2018/06/02/demi-jaga-tradisi-pedagang-tetap-bertahan-meski-ketupat-raksasa-tak-lagi-diminati/

Meski dagangannya tidak banyak terjual malah terkadang rugi, seorang ibu bernama Susanti tetap mempertahankan usaha penjualan pernak-pernik khas Ramadhan berupa “ketupat raksasa” yang terbuat dari plastik, di Jalan Sisingamangaraja, Kota Medan.
.
Elvi mengatakan, sudah 3 tahun berjualan di bulan Ramadhan, namun baru di tahun ini ia merasakan tidak adanya peminat yang cukup tinggi.
.
“Setiap menjelang lebaran saya menjual ini, yah kadang laku, kadang gak tergantung rezeki yang dikasih Allah,” tutur Elvi kepada Publika, Sabtu (2/6/2018).
.
Saat ditanya berapa omset yang didapat, ia menjelaskan bahwa yang didapatnya dari hari pertama Ramadhan sampai hari terakhir paling besar adalah Rp. 2-3 juta.
.
“Selama sebulan tidak banyak yang saya dapatkan hanya 3 juta rupiah, itupun kadang hanya balik modal karena ada yang menjualkan tapi ujung-ujungnya tidak seperti yang diharapkan,” keluhnya.
.
Lebih lanjut dikatakannya, usaha ini digelutinya semata-mata ingin mempertahankan kerajinan yang menjadi tradisi untuk menghiasi rumah umat Muslim di Hari Raya Idul Fitri.
.
“Untuk ukuran yang besar saya jual Rp. 25.000 yang sedang Rp. 15.000, sedangkan yang paling kecil Rp. 10.000,” jelanya.
.
Evi berharap masyarakat tetap melirik dan mempertahankan kerajinan yang telah ada sejak lama itu, jangan sampai hilang dikikis perkembangan zaman.
.
“Kalau bukan kita dek, siapa lagi yang mempertahankan kerajinan ini,” demikian Elvi.
.
Sumber :

Demi Jaga Tradisi, Pedagang Tetap Bertahan Meski “Ketupat Raksasa” Tak Lagi Diminati


.
#Medan #Berita #Kuliner #Tradisi #KetupatRaksasa #Lebaran #MedanTalk

Berita Cerita Kota Medan

[if-insta-embed-video]

[/if-insta-embed-video]

Untuk informasi pasang iklan , cek halaman sponsors Untuk informasi lowongan kerja cek www.KarirGram.com

Untuk informasi kuliner sedunia, cek www.MakanTalk.com

Untuk informasi property Medan, tips dan inspirasi cek www.RumahTalk.com

Untuk informasi otomotif dan video viral otomotif, cek www.OtomTalk.com

Follow our social media: Instagram , Facebook & Twitter @medantalk for instant updates and please share our posts

Leave a Reply