. Miris dunia pendidikan dan ekonomi di Indonesia. Heri Akhmad Ripai (55) seorang ayah ini rela melakukan segala cara demi buah hatinya. Heri berniat menjual ginjal untuk membiayai kuliah sang anak. Dengan bermodalkan kertas karton besar bertuliskan ‘Saya Mau Jual Ginjal Untuk Biaya Putri Saya’, Heri berkeliling di sekitar Bundaran HI. Heri bercerita, niatnya menjual ginjalnya karena keterbatasan ekonomi untuk membiayai keperluan anak keduanya Dindi Intan Pertiwi yang tengah kuliah sarjana Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, jurusan Administasi Publik di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Purwokerto. Ripai menuturkan, bahwa anaknya kuliah di Unsoed mau masuk semester 5. Terakhir, Karena batas akhirnya sampai tanggal 6 Agustus, Ia takut dindi di-DO, ia pun berpikir pikir cuma ini satu-satunya cara yang terpikirkan olehnya. Sebelum melakukan aksinya di Jakarta, Heri sempat melakukan hal serupa di Bandung pada tahun 2014. Disana ia bertemu seorang pasien yang mengalami gagal ginjal, tapi karena terkendala biaya pasien tersebut mengurungkan niatnya. “Ini juga baru ada uang buat kesini. Tadi malam berangkat dari Singaparna sekitar pukul 23.00 WIB hari kamis, sampai di Terminal Kampung Rambutan jam 05.00 WIB. Trus saya naik bis ke sini Bundaren HI jam 06.30 WIB, itu juga uang tinggal Rp 9.000,” tutur Ripai saat diwawancarai wartawan detik. “Umur saya sudah 55 tahun, buat saya 5 detik, 5 menit, 5 jam, bulan, tahun sudah bukan apa-apa buat saya, hanya ini harta yang saya punya untuk bisa menyambung sekolah anak saya,” imbuhnya dengan sedih. Heri datang ke Bundaran HI Jakarta dari rumahnya di Kampung Mekasari RT 01/02 Desa Singasari, Kecamatan Siparna, Kabupaten Tasikmalaya. Untuk mendapatkan perhatian orang banyak. “Jakarta kan pusatnya perhatian, tidak seperti di Tasik,” Namun sayang hingga malam ini belum ada hasil yang didapat Heri. “Nggak ada yang peduli, hanya lihat tanya saja ngga, paling cuma satu orang doang berhenti moto, trus jalan lagi,” katanya

Instagram filter used: Normal

View in Instagram ⇒

Leave a Reply