Musa Rajekshah dan Harley Davidson
27/08/2011 in Anak Medan
HARLEY DAVIDSON, motor gede buatan Amerika Serikat ini selalu tampak menjadi pusat perhatian begitu melintasi jalan raya. Tarikan mesinnya yang kuat serta suaranya yang garang membuat siapa pun yang mengendarainya tampak lebih jantan. Belum lagi desainnya yang mewah dan gagah. Tak heran bila motor gede yang pertama kali diproduksi pada tahun 1901 oleh William S. Harley ini, tetap diminati sepanjang masa. Di berbagai belahan dunia, komunitas pengendara Harley Davidson pun bermunculan. Harley Davidson Club Indonesia (HDCI), misalnya, yang tak hanya eksis di kota-kota besar di Indonesia. Tapi juga telah lama hadir di Medan.
Ketua HDCI Sumut, Musa Rajekshah, menjelaskan, kini setidaknya terdaftar sebanyak 55 anggota HDCI Sumut yang aktif di komunitas yang sudah terbentuk sejak tahun 2005 ini. Tak hanya sekadar ngumpul-ngumpul, komunitas ini pun sekaligus menjadi ajang berbagi pengetahuan soal seluk beluk Harley Davidson.
“Beberapa kali kita juga mengadakan touring ke beberapa daerah. Selain itu, kita juga ingin menunjukkan bahwa HDCI bukan untuk ugal-ugalan di jalan raya. Ini dibuktikan dengan beberapa kali HDCI mengadakan aktivitas sosial, seperti kunjungan ke beberapa panti sosial,” ujar Musa Rajekshah, penghobi Harley Davidson, yang akrab disapa Ijeck itu.
Ijek sendiri mengaku kagum dengan Harley Davidson sejak masih remaja. Ia mengaku kagum dengan bodi dan kegagahan mesin motor yang pamornya trend lewat film “Renegade” yand diperankan aktor Lorenzo Lamas itu.
“Kebetulan ayah saya juga dulu memiliki Harley. Lama lama saya jadi tertarik dan mulai menggelutinya. Mengendarai Harley Davidson memiliki sensasi tersendiri. Lebih prestise. Karena body, mesin dan suaranya yang gagah,” ujar Ijeck yang kini mengoleksi beberapa Harley Davidson dengan tipe yang berbeda.
Meski demikian, Anda pasti melihat Ijeck mengendarai Harley Davidson-nya melintas di jalan raya Medan sendirian. “Buat apa, nanti dikirain pamer. Biasanya kita memang mengendarai Harley pada saat ada touring saja, ke luar kota misalnya. Kalau mengendarainya sendirian, enggaklah…” ujar Ijeck.
Lalu, adakah perawatan khusus untuk Harley Davidson? “Sebenarnya tidak ada. Biasa saja, seperti motor kebanyakan. Mesinnya harus tetap dirawat secara rutin. Kalau Harley ini kan tak hanya mesin saja yang perlu dirawat. Bodynya juga menjadi daya tariknya. Kerangka mesinnya yang tampak detail menjadikannya lebih gagah. Makanya, perawatan body juga diperhatikan,” ujar Ijeck.
Beruntungnya, di komunitas HDCI, sesama pengendara bisa saling bertukar informasi soal perawatan mesin dan body. Beberapa kali komunitas HDCI juga mengadakan workshop mengenai pewatan body dan mesin. “Karena mekanik Harley masih langka di Medan, sesekali kita ngumpul. Terus, kita datangkan mekanik dari Jakarta. Nah, di situ nanti kita dapat berbagi informasi soal perawatannya,” ujar Ijeck.
Harley Davidson memang menjadi sebuah prestise tersendiri bagi pemakainya. Dengan demikian, harganya yang mencapai Rp 200 juta – 500-an juta pun tak jadi soal bagi mereka yang memang “menggilai” Harley Davidson.
Popularity: 1% [?]












