Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mendesak pemerintah melakukan pengawasan terhadap naiknya sejumlah kebutuhan pokok.
“Alasan mekanisme pasar itu hanya berlaku bagi negara kapitalis. Artinya wajib ada pengawasan. Harga melonjak karena stok barang kurang mesti ditelusuri. Pemerintah tak boleh tinggal diam,” kata Ketua YLKI Medan Abu Bakar Siddiq, di Medan, Selasa (6/7).
Menurutnya, jika pemerintah tak mampu mengendalikan harga dan membuatnya kembali stabil, maka pemerintah dianggap tak berfungsi. Akibatnya, masyarakat semakin resah. Apalagi meroketnya harga kebutuhan tak sebanding dengan pendapatan mereka.
“Karena itu instansi terkait perlu segera turun melakukan pengawasan. Stabilkan harga di pedagang. Selidiki jalur distribusi,” ucap Abu.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Dinas Perindag) Sumatera Utara M Hasbi Nasution mengakui terjadi lonjakan harga pada komoditi tertentu seperti sayur mayur dan daging ayam potong. Namun, Hasbi berdalih, penyesuaian harga dipicu terbatasnya stok barang karena kegagalan panen di sentra dan perubahan musim secara ekstrem.
“Mana bisa kita tentukan. Semuanya itu mekanisme pasar. Karena pasokan sedikit dan tak banyak, makanya harga naik. Kalau distribusi barang masih tetap lancar, hanya stoknya saja berkurang,” ujar Hasbi.
Hasil monitoring harga bahan pokok di Pasar Sei Sikambing dan Pusat Pasar, Medan, harga beras Ramos mencapai Rp 7.300 per kg, Kukubalam Rp 7.500 per kg, Arias Rp 7.200 per kg, Jongkong IR64 Rp 6.300 per kg, IR64 kualitas 3 Rp 6.300 per kg.
Sementara, harga daging ayam potong naik menjadi Rp 35.000 per kg dari Rp 28.000 per kg, bawang merah naik Rp 18.000 per kilo dari Rp 16.000 per kg dan cabai merah Rp 45.000 per kg. Sedangkan gula pasir masih bertahan Rp 10.000 per kg.
Popularity: 1% [?]
RSS Feeds
Twitter
Facebook
E-Mail












