Penetrasi Elpiji di Indonesia Hanya 0,05
02/07/2011 in Business
Hanya 0,05 persen penetrasi atau penggunaan elpiji dari total penduduk di tanah air. Angka ini dianggap sangat rendah mengingat dibandingkan negara tetangga, Malaysia, elpiji sudah menjadi bahan bakar wajib bagi warga sejak tahun 1980-an.
“Dari angka 0,05 persen itulah kebutuhan atau serapan bahan bakar elpiji masyarakat Indonesia,” ucap Associate dan Senior Consultant National Leadership Center (NLC) Lukas Luwarso, belum lama ini di Medan. Lukas mengatakan, oleh pemerintah, sejak tahun 2007, program konversi minyak tanah ke elpiji dan selanjutnya diintensifkan pada tahun 2009.
Langkah ini diambil guna merespon laju kenaikan minyak dunia pada masa itu, hingga pemerintah menanggung biaya subsidi minyak mencapai Rp 24 triliun. Didampingi Sudarmanto, Lukas menambahkan, pola pikir masyarakat akan bahaya penggunaan elpiji, menjadi kendala bahwa pemakaian bahan bakar gas alam ini jauh lebih efisien ketimbang minyak tanah.
Berdasarkan amatan yang dilakukan, ledakan yang terjadi di sejumlah daerah memicu kekhawatiran masyarakat akan pemakaian elpiji makin bertambah. “Sepertinya nasib elpiji sudah sebagai ‘kambing hitam.’ Masyarakat begitu khawatir pada elpiji lantaran sudah memiliki mindset bahwa elpiji bahan bakar berbahaya,” cetusnya.
Diakuinya, ganjalan ini membuat program konversi terlambat. Ironisnya, sosialisasi penggunaan elpiji di tanah air hampir sama kondisinya dengan negara di Afrika. Menyikapi hal itu, perlu sejumlah langkah di antarnya mengedukasi kembali arti elipiji sebenarnya, sehingga persepsi baru akan manfaat elpiji dapat terbentuk.
Popularity: 1% [?]












