Perahu layar yang sebagian besar materialnya dibangun dari 12.500 botol plastik daur ulang, berlabuh di Sydney Harbour pada Senin (26/7).
Kapal plastik ini berlabuh setelah menempuh empat bulan pelayaran sulit melintasi Samudra Pasifik. Mengemban misi untuk meningkatkan kesadaran tentang bahaya sampah plastik.
Para awak dari Plastiki, catamaran berukuran 60 kaki (18 meter) yang menentang badai laut sengit selama berada pada posisi 8.000 mil laut di perairan terbuka, meninggalkan San Francisco pada 20 Maret lalu, melakukan perhentian dalam perjalanannya di berbagai negara kepulauan
Pasifik Selatan dan Samoa termasuk Kiribati.
“Sejauh ini, ini adalah bagian tersulit dari perjalanan – merapatkan kapal ke dermaga!” ujar pemimpin ekspedisi David de Rothschild yang berseru dari atas perahu sementara para kru berjuang untuk melakukan manuver demi
mengarahkan kapal ke pelabuhan di luar Australian National Maritime Museum.
Sementara kerumunan 100 orang bersorak sorai setelah kapal Plastiki akhirnya berhasil berlabuh. De Rothschild – seorang keturunan dari keluarga perbankan terkenal Inggris – pun berpelukan dengan para krunya, mengepalkan tinju ke udara dalam ekspresi kegembiraan atas keberhasilan pelayarannya.
“Ini telah menjadi sebuah petualangan yang luar biasa,” katanya.
De Rothschild, 31, mengatakan ide untuk melakoni petualangan itu muncul setelah ia membaca sebuah laporan PBB pada tahun 2006 yang mengatakan polusi – dan sampah terutama plastik – serius mengancam lautan di dunia.
Ia pun berpikir bahwa cara yang baik untuk membuktikan bahwa sampah dapat digunakan kembali secara efektif yaitu dengan memanfaatkannya untuk membangun perahu.
Perahu bernama The Plastiki – terinspirasi pelayaran rakit Kon-Tiki pada 1947 yang mengarungi Samudra Pasifik oleh explorer Thor Heyerdahl – sepenuhnya dapat didaur ulang dan mendapatkan energi dari panel surya dan kincir angin.
Perahu hampir seluruhnya terdiri dari botol, yang direkatkan dengan menggunakan lem organik dari tebu dan mete, tetapi dilengkapi bahan
lain juga sebagai penguat. Tiang utamanya pun terbuat dari pipa aluminium daur ulang irigasi.
“Perjalanan Plastiki adalah perjalanan dari sampah untuk kemenangan,” kata Jeffrey Bleich, Duta Besar AS untuk Australia, yang disambut tim setelah mereka berlabuh, seperti dilansir AP dan dikutipdari Yahoo!News.
Selama pelayaran 128-hari, enam awak tinggal di pondok kapal berukuran 6 x 4,5 meter, menggunakan air asin untuk mandi, dan perbekalan berupa makanan kering dan kalengan, yang sesekali dilengkapi dengan sayuran dari
kebun kecil di atas kapal mereka.
Sepanjang jalan, mereka bertempur dengan ganasnya samudra luas, terjangan angin 70 mil per jam, dan tusukan suhu sampai 38 derajat
Celcius… termasuk berjuang dengan layar yang sobek-sobek. Para kru berhenti sebentar di negara bagian Queensland pekan lalu, setelah berjuang melawan badai brutal di lepas pantai Australia.
Kapten Jo Royle juga memiliki tantangan khusus menjadi satu-satunya wanita di atas kapal. “Aku pasti menantikan segelas anggur dan tawa dengan
pacar saya,” katanya.
Meskipun tim petualang itu awalnya berharap untuk mendaur ulang Plastiki, de Rothschild mengatakan mereka sekarang berpikir untuk menyimpannya secara utuh, dan menggunakannya sebagai bagian dari “kampanye” yang mencerahkan orang tentang kekuatan daur ulang.*
Popularity: 1% [?]
RSS Feeds
Twitter
Facebook
E-Mail













Reta Says:
Haloo Medan, apa kabar? Semoga senantiasa sehat selalu
melihat bahaya2 yang ditimbulkannya, sudah saatnya kita mengurangi penggunaan kantong plastik.
sudah punya tas baGoes? baGoes adalah solusi nyata untuk membantu mengurangi penggunaan kantong plastik. Selain bisa dilipat menjadi gantungan kunci, baGoes dapat mengganti hingga 1000 kantong plastik.
info lebih lanjut mengenai tas baGoes bisa dilihat di http://shop.greeneration.org
yuk sebarkan pengurangan penggunaan kantong plastik ini, untuk mendukung terwujudnya Indonesia tuntaskan sampah!
Salam,
Reta Yudistyana
Greeneration Indonesia
–
Greeneration Indonesia
green attitude green environment
Kanayakan D 35 . Bandung 40135
Jawa Barat – Indonesia
Telp/Fax: +62-22-2500 189
Email: info@greeneration.org
Web: http://www.greeneration.org
Posted on August 16th, 2010 at 8:34 AM
Baday| Medan Talk Says:
Setuju mbak soal pengurangan sampah plastik dan pengurangan tingkat polutan di Bumi kita ini!
Posted on August 17th, 2010 at 10:12 PM