Planet “Kembaran” Bumi Terdeteksi!

Planet “Kembaran” Bumi Terdeteksi!

Sebuah objek mirip planet Bumi yang mengorbit satu bintang mirip matahari terdeteksi. Temuan mengagumkan ini bisa saja membuka jalan pada pembenaran teori kemungkinan adanya bentuk kehidupan asing (alien life) di luar tata surya kita!

planet_likeearthPara ahli astronomi mengklaim telah berhasil mendapatkan sejumlah imej langsung untuk pertama kali dari objek mirip planet yang mengorbit
bintang seperti sistem tata surya kita.

Temuan sejenis telah diumumkan pada tahun lalu, kala para ahli astronomi berhasil menguak sistem planet tunggal dan multi planet yang mengorbit satu bintang. Namun bintang yang dikitari sistem
planet itu jauh lebih besar dari matahari yang kita kenal.

Gambar-gambar terbaru dari objek teridentifikasi ini didapat pada bulan Mei dan Agustus lalu dalam sebuah tes awal instrumen pemburu planet
terbaru yang ditempatkan di Subaru Telescope berbasis Hawaii.

Michael McElwain dari Princeton University, sebagai slah satu tim studi tersebut menyebutkan bahwa objek yang diberi kode GJ 758 B itu
mengorbit satu induk bintang yang massa dan temperaturnya hampir serupa dengan matahari kita.

Bintang itu berjarak sekitar 480 triliun km atau sekitar 50 tahun cahaya dari Bumi.

Namun para ilmuwan belum bisa memastikan apakah objek tersebut adalah planet besar atau sekadar brown dwarf (bintang kerdil cokelat) –satu bentukan “kabut” kosmis yang disebut bintang gagal. Mereka hanya mengestimasikan massanya sekitar 10 sampai 40 kali lebih besar dari Jupiter. Bumi mengklasifikasi objek yang 13 kali (atau di atasnya) lebih besar diyakini sebagai bintang kerdil.

Tim studi luar angkasa itu sepert yang dilansir dari Space.com dan dikutip dari Yahoo!News menduga bahwa jarak orbit objek GJ 758 B ke
bintangnya kira-kira sama dengan jarak Planet Neptunus ke matahari.

Para ilmuwan menambahkan bahwa objek sejenis lainnya yang mengorbit bintang juga sudah mulai terdeteksi. Namun objek berkode GJ 758 C itu masih membutuhkan konfirmasi observasi lebih lanjut karena belum begitu jelas penampakannya.

Tim studi ini melibatkan sejumlah ahli dan ilmuwan dari Princeton, the University of Hawaii, the University of Toronto, the Max Planck Institute for Astronomy di Heidelberg, Jerman, dan the National Astronomical Observatory of Japan di Tokyo. Hasil studi awal tersebut sudah dirilis pada 18 Noveber lalu di versi elektronik dari edisi cetak Astrophysical Journal Letters.* (berbagai sumber)

0
Like
Save

Comments

Silakan Berbagi / Komentar

%d bloggers like this: