Pelaku properti menyambut periode usai perayaan Lebaran, sebagai momen kebangkitan properti. Beberapa indikasi menguatkan prediksi mereka antara lain mulai berjalannya proyek-proyek pemerintah di semester ke dua tahun 2010, hingga dipastikan mendorong geliat laju roda perekonomian daerah.
“Saya pikir, usai Lebaran properti akan semakin baik saja. Kalau dibandingkan awal hingga pertengahan tahun, selama semester kedua, khususnya setelah Idul Fitri, properti makin ‘booming’. Permintaan perumahan lebih baik,” ucap Direktur Asia Bisnis Center Tomi Wistan, di Medan, Kamis (16/9/2010).
Menurutnya, permintaan rumah tak hanya terjadi di segmen menengah ke bawah, yang selama ini memiliki pangsa pasar cukup besar, bila dibandingkan pasar middle-up. Market rumah umumnya bermain di kisaran Rp 250 juta ke bawah dan lebih di atas itu, akan semakin diminati.
Pengembang, sebut dia, dewasa ini semakin jeli melihat peluang pasar yang berpotensi digarap, namun belum ada pemain yang melirik ke daerah dimaksud. Seperti kawasan perkebunan misalnya, belum banyak pengembang yang berani menjajal konsumen di daerah itu.
“Padahal di sana pasarnya luar biasa. Potensinya cukup besar, jika pengembang berani mengambil langkah ekspansi menggarap market di sana,” ucap developer yang banyak mengembangkan bisnis perumahan berlokasi di luar Kota Medan ini.
Sekum DPD Realestat Indonesia (REI) Sumut Jafar Syahbuddin Ritonga mengakui, adanya kenaikan daya beli di sektor perumahan setelah momen Lebaran selesai. Animo masyarakat tumbuh membeli properti, dipicu rencana pemerintah menaikan gaji pegawai negeri sipil (PNS) dalam waktu dekat.
“Secara tidak langsung, minat konsumen terhadap properti bertambah. Belum lagi proyek pemerintah makin gencar, hingga akhir tahun nanti. Diperkirakan bisa lebih baik di kisaran 10 hingga 20 persen, ketimbang periode semester lalu,” jelas Jafar.
Jafar berpendapat, selain itu trend penguatan harga komoditi perkebunan merangsang minat beli masyarakat. Tak heran, permintaan properti tak hanya datang dari pembeli di kota, tetapi juga berasal dari luar Medan, khususnya sentra perkebunan.
“Lihat saja, daerah yang memiliki sentra perkebunan seperti Penyambungan, Ranto Prapat jauh lebih maju dari sisi ekonomi daripada kawasan pertanian. Jadi gak heran, kalau permintaan properti di sana lumayan bagus. Makanya, ada satu dua anggota yang berani bermain ke sentra perkebunan seperti di Bagan Batu,” tandasnya.
Popularity: 1% [?]
RSS Feeds
Twitter
Facebook
E-Mail












