9
February , 2012
Thursday
jjgrosir
Pamera mobil
macanlink-web-600px
blackberry shop
kartu diskon
kost modern medan
macan delivery
<< >>
Posted by Frans | Medan Talk On October - 13 - 2009

jjgrosir

cepek ceng

Dengan berlanjutnya penguatan rupiah, BI disarankan seharusnya tidak memikirkan eksportir yang menempatkan dananya di bank Singapura, Hongkong dan Cina.

Hal itu dikatakan analis pasar uang, Farial Anwar di Jakarta. “Kami harapkan BI tidak memikirkan eksportir. BI lebih baik fokuskan kepada ekonomi yang diperkirakan akan tumbuh lebih baik. Sebab, mereka tidak memikirkan pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih lanjut,” ucapnya.

BI dalam beberapa hari terakhir setelah berlanjutnya penguatan rupiah di kisaran Rp 9.400 per US$, khawatir eksportir akan mengeluh dengan kenaikan rupiah yang berlanjut, karena hasil produknya yang dipasarkan di luar negeri kurang kompetitif.

Dijelaskan Farial, rupiah menjelang akhir tahun ini menunjukkan keperkasaan dibanding mata uang utama Asia lainnya terus mengalami kenaikan hingga sempat mencapai di posisi Rp 9.365 per dolar. Rupiah saat ini merupakan mata uang Asia yang mengalami kenaikan cukup tajam terpicu oleh aktifnya pelaku asing membeli mata uang Indonesia untuk bermain di pasar domestik membeli saham-saham.

Namun posisi rupiah yang mendekati angka Rp 9.300 per dolar tidak berlangsung lama, kembali melemah hingga di atas Rp 9.400 per dolar, akibat aksi profit taking (mencari untung) oleh pelaku asing.

Meski posisi rupiah masih tak menentu kadang naik atau turun, peluang untuk bisa mencapai angka Rp 9.000 masih cukup besar yang didukung oleh berbagai faktor baik internal maupun eksternal. Selain itu, dolar AS yang merupakan mata uang dunia pamornya mulai berkurang, bahkan sejumlah negara Teluk telah menggunakan euro sebagai mata uangnya.

Farial Anwar menegaskan, rupiah berpeluang mencapai tingkat Rp 9.000 per dolar AS pada akhir tahun ini, karena berbagai faktor internal maupun eksternal sangat mendukung untuk mencapai ke arah tersebut. Peluang rupiah untuk bisa mencapai angka Rp 9.000 per dolar sangat besar, karena faktor eksternal maupun internal dewasa ini sangat mendukungnya, kata yang juga Direktur Currency Management Board ini.

Dengan melemahnya dolar AS terhadap mata uang utama Asia merupakan salah satu faktor yang mendorong rupiah menguat lebih lanjut. Selain itu juga Amerika Serikat mengalami defisit perdagangan yang mencapai 1,6 triliun dolar menunjukkan bahwa negara paman Sam itu negara yang tumbuh dari utang.

Faktor-faktor tersebut mendorong pelaku asing mulai mengalihkan dananya yang semula ditempatkan dalam bentuk dolar ke mata uang lainnya seperti euro dan emas. Negara-negara Teluk seperti Irak dan Qatar sudah tidak menggunakan dolar karena mereka memakai Euro sebagai mata uang negara.

Di dalam negeri, lanjut dia, pemilihan umum yang berjalan lancar dan pemerintah yang sangat dipercaya, memicu pelaku asing aktif bermain di pasar domestik. Akibatnya Indonesia kebanjiran modal asing, sehingga indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) sempat di atas level 2.500 poin. (Sumber: inilah/ Foto: int)

Popularity: 1% [?]

Berita Cerita Berkaitan

You can leave a response, or trackback from your own site.

Silakan Berikan Komentar




Copyright by: MedanTalk.com | SiteMap | Twitter | Facebook | Contact | Supported by: MedanKu | Macan Group | All rights reserved Worldwide.