
Nilai tukar rupiah pada perdagangan Rabu (25/11) diperkirakan menguat dipicu pelemahan dolar. Namun kekhawatiran pembatasan kepemilikan asing di SBI masih jadi ganjalan.
Pengamat valas Andri Zakarias mengatakan, rupiah hari ini masih berpotensi menguat seiring berlanjutnya pelemahan dolar AS. Namun, rupiah juga berpeluang tertekan akibat pembatasan kepemilikan asing di Sertifikat Bank Indonesia (SBI).
“Rupiah akan diperdagangkan pada kisaran 9.400-9.500 per dolar AS,” ujarnya Selasa (24/11), petang. Menurutnya, tekanan seputar pembatasan durasi SBI ini, berpotensi besar menjadi peraturan.
Hal ini mempengaruhi investor asing yang berinvestasi pada aset di emerging market seperti Indonesia. “Meski saat ini masih dalam pembahasan di level dewan gubernur bank, beberapa bank asing menolak berkomentar,” katanya.
Sementara pelemahan dolar AS lebih disebabkan menguatnya yen, yang kini menjadi safe haven baru. Hal ini disebabkan keputusan bank sentral AS The Fed untuk mempertahankan suku bunga rendah hingga akhir 2010, dari semula semester pertama 2010.
Perubahan keputusan itu terjadi karena pemerintah China belum memberi sinyal untuk melepaskan tag-nya terhadap dolar. Sehingga yuan terus mengikuti pergerakan dolar dan mempersulit usaha dolar untuk melemahkan dirinya.
“Selama Fed masih mempertahankan suku bunga rendah, akan terus terjadi banjir likuditas dolar di pasar. Dolar tertekan dan mata uang Asia lainnya pun berpotensi untuk terus menguat,” lanjut Andri.
Di sisi lain, analis Harvest International Futures Tony Mariano memperkirakan, pergerakan rupiah hari ini akan melemah seiring potensi tertekannya indeks saham lokal dan regional. “Rupiah akan bergerak pada kisaran trading 9.450-9.530,” katanya ketika dihubungi terpisah.
Menurutnya, negatifnya semua indeks saham di Asia pada perdagangan kemarin, menunjukkan adanya capital outflow. Alhasil, nilai tukar dolar AS terangkat dan mata uang Asia, termasuk rupiah melemah. “Begitu juga dengan pasar Eropa yang juga berpotensi menekan rupiah,” ujarnya.
Sentimen negatif terhadap rupiah juga dipicu meningkatnya permintaan korporasi terhadap dolar AS menjelang akhir bulan. Apalagi dolar AS dalam posisi oversold, sehingga diperkirakan akan ada aksi beli dolar yang menyebabkan nilai mata uang AS ini naik.
Sementara itu, meningkatnya permintaan dolar AS juga didukung profit taking pelaku pasar menjelang akhir tahun, sebagai persiapan penutupan perdagangan. Namun, hal ini sangat tergantung pada irama pergerakan rupiah yang terbentuk saat ini.
“Jika faktor-faktor yang sedang berjalan mendukung maraknya aksi beli terhadap dolar di pasar regional, berarti pelaku pasar lokal hanya ngekor saja,” pungkasnya.
Kurs rupiah di pasar spot valas antar bank Jakarta, Selasa (24/11) melemah 65 poin (0,690%) terhadap dolar AS menjadi 9.475/9.485. (Sumber: inilah/ Foto: int)
Popularity: 1% [?]
RSS Feeds
Twitter
Facebook
E-Mail












