9
February , 2012
Thursday
jjgrosir
Pamera mobil
macanlink-web-600px
blackberry shop
kartu diskon
kost modern medan
macan delivery
<< >>
Posted by Reyno On July - 27 - 2010

jjgrosir


Satu lagi anak Medan unjuk kemampuan di pentas nasional. Kali ini lewat seni menggambar berupa komik. Tak tanggung, komik berjudul I Want To Live ini diterbitkan oleh M&C, grup penerbit Kompas Gramedia. Seperti apa isinya?

Tunggu dulu. Kita berkenalan dulu sama si pembuat komik. Namanya Susanto (31). Santo, panggilan akrabnya, merupakan alumni Perguruan Sutomo 1 Medan. Selepas SMA, ia kuliah ke STMIK Mikroskil Medan. Sekarang Santo menjadi desainer di sebuah perusahaan desain grafis.

Komik I Want To Live dicetak setebal 190 halaman. Santo tidak sendirian mengerjakan komik ini. Selama setahun, komik ini “dikeroyok” Santo bersama timnya. Selama setahun itu tim pendukung penggarapan komik silih berganti. “Maklum, honornya kecil. Aku tidak bisa memaksa mereka untuk ikut (mengerjakan) terus,” kata Santo di rumahnya di Jalan Mesjid, Medan.

Komik ini tak sengaja dikerjakan Santo. Awalnya, komik ini dibuat untuk mengikuti lomba komik Morning International Manga Competition yang digelar Kodansa, sebuah penerbitan tenar di Jepang. Ketika itu tahun 2008. Sayangnya, komik ini baru selesai jelang deadline. “Aku takut terlambat di pengiriman dan akhirnya tak bisa ikut lomba,” kata Santo.

Penggemar airsoft gun ini lalu mendapat kabar kalau M&C membuka kesempatan bagi komikus lokal untuk mengirimkan karyanya. Saat itu Maret 2009, Santo mengirimkan draft komiknya. Ternyata komik Santo terpilih. Kontrak pun ditandatangani. Selama setahun bersama tim-nya Santo menggarap komik ini.

Tim kreatif komik ini dinamai KABABONKEN. Nama ini merupakan gabungan nickname empat artist komik ini di dunia maya. Santo satu-satunya orang Medan asli. Tiga lainnya berasal dari Jakarta dan Bandung. Ketiga orang partner kerja Santo dikenalnya lewat dunia maya. “Malah satu di antaranya belum pernah tatap muka,” kata Santo tergelak.

Bagaimana koordinasi kerja mereka? Setelah proses menggambar (pencilling) dikerjakan Santo, ia mengirimkan gambar ke partnernya untuk proses inking, tone, pemberian text dan soundeffect. Komunikasi dilakukan lewat sms, telepon, atau chatting. “Kalau ponsel sedang tidak aktif dan (mereka) juga tidak online, hancurlah aku, mau mencari ke mana lagi?” kata Santo lagi.

Ke depan, Santo ingin mencari tim kerja sesama orang Medan agar prosesnya lebih gampang. “Di Medan ini banyak talent, tapi mereka tertidur karena komunitasnya kurang kuat. Mudah-mudahan setelah ini mereka bisa bangun” kata Santo lagi.

Sebelum melahirkan komik ini, komik karya Santo sebenarnya pernah diterbitkan di salah satu majalah terbitan Surabaya pada 1999. Komik itu berjudul Hero Waniman. Ia juga pernah menerbitkan komik secara independen. Sayang, nasib komik itu kurang beruntung.

Bagaimana Santo mengenal komik? Ternyata ia tak pernah belajar khusus. “Otodidak aja,” katanya santai. Memang, sejak kecil pria berbadan subur ini maniak komik. Komik-komik luar, terutama asal Jepang, menjadi santapannya. “Aku sangat suka dengan Dragon Ball. Komik ini benar-benar mempengaruhiku,” kata Santo.

Begitulah cerita tentang Santo. Bagaimana isi komiknya? Ah, kayaknya gak seru kalau tidak membaca sendiri. Pasti lebih seru dari pada kami menceritakannya untuk Anda!
Komik ini sudah tersedia kok di Gramedia. Langsung aja ke sana.

Komik Lokal Indonesia (KOLONI)

Komik I Want To Live bikinan Santo dan timnya ini sudah dilaunching di Medan. Komik ini cukup mencuri perhatian penggemar komik di Indonesia. Publikasi seperti ini memungkinkan karena komik ini diterbitkan M&C, grup penerbit Kompas Gramedia. M&C memiliki divisi bernama Komik Lokal Indonesia atau KOLONI.

Divisi ini menjaring komikus berbakat dari seluruh Indonesia dan diberikan kesempatan untuk menerbitkan komiknya. Kata Santo, Agustus 2009 KOLONI mencetak delapan judul. Gelombang berikutnya, diterbitkan lagi tiga judul lain, komik I Want to Live.

Saban bulan, KOLONI menerbitkan 3-5 komik. Tujuannya untuk menghempang komikus Indonesia agar tidak “lari” ke luar negeri. “Banyak illustrator Indonesia dikontrak bule untuk mengerjakan komik luar. Komikus Indonesia dibajak negara lain. Padahal sumber daya kita tak kalah,” kata Santo.

Illustrator Indonesia tergiur “berbisnis” dengan pihak asing karena masalah pendapatan. Di Jepang misalnya, illustrator dibayar sekitar Rp 100 ribuan hingga Rp 1 jutaan per halaman. “Kalau di sini, paling sekitar Rp 20 ribuan. Mau makan apa?” kata Santo.

Santo bersyukur Indonesia punya KOLONI. Setidaknya, model kerjasama ini bisa mempertahankan komikus lokal untuk terus berkarya. “Komikus Indonesia sedang berjuang agar komik bisa jadi sumber pemasukan,” katanya.

Hingga kini, komik-komik keluaran KOLONI sudah mendapat tempat khusus di kalangan konsumen Indonesia. Sebut saja misalnya komik Garudayana (Is Yuniarto), LUV (Archie The Redcat), 1S RG (Muh Fathanatul Haq), Jump Around (Kelingking Kuroshiro), dan banyak yang lainnya.

Popularity: 1% [?]

Berita Cerita Berkaitan

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

5 Responses

  1. kurochan Says:

    hmm, sorry – sorry banget bro, aku kira ini yang buat anak baru gede, nyatanya udah tua bro, alna bro buat anak sutomo sih, lagian aku pikir sma nya dia dulu nggak ngaruh ama keahlian dia buat komik sekarang.. (aku ngerasa kok ada yang numpang yah..??)
    Katanya mau buat komikus Indonesia go internasional, kalau masih baru mulai gini, trus dah didompleng ama pihak yang sok berkepentingan, aku pesimis bro..
    Sorry bro, kalau kritik nya agak pedas,,
    Thanx..

    Posted on August 11th, 2010 at 6:35 AM

  2. babeh Says:

    wah bro, gw 1 jam googlin nyari2 bekas crew shinzen comic. pengen tau nasibnya pe gimana. soalnya gw baru ketemu komiknya diantara tumpukan2 barang2 bekas yang mau diberes2in buat nyambut chinese new year hihi. bernostalgia ria jadinya. trus ku cari bagaimana nasib selanjutnya komik ini, karena kuingat2 gw nunggu lama juga untuk edisi selanjutnya. ternyata komik yang tidak beruntung. gw jg browse ke website official shinzen dulu wew sudah berzaman2 tidak diupdate.

    Posted on January 27th, 2011 at 10:53 PM

  3. KABABONKEN Says:

    @kurochan
    Mungkin Kurochan bisa memberi pencerahan yang lebih baik :) untuk segi cerita dengan berbagai latar situs kota Medan merupakan salah satu syarat mutlak dari pihak penerbit M&C! (Kompas Gramedia Group) selain itu kami wajib sebagai orang indonesia untuk lebih mengeksploitasi budaya dan situs kota Indonesia yang sudah mulai dilupakan (khususnya kota Medan) jadi kalau merasa kami berusaha mendompleng untuk meraih nama baik, maaf deh tidak ada maksud sampai seperti itu tapi anyway terima kasih atas komentarnya :) Btw udah baca belum komiknya ya

    @Babeh
    Grup Shizen telah lama bubar bro, saat ini yang masih akif ngomik hanyalah Susanto Kenta, fesbuknya bisa di add di empiresumatra@yahoo.com

    Posted on January 28th, 2011 at 9:20 PM

  4. TUFCA01 Says:

    @kurochan
    Wow sorry juga neh saya blak blakan, kebetulan saya penggemar I Want To Live……..
    dari konsep cerita dan alur cerita saya Two Tumbs Up……. saya juga ngak nyangka ini di buat oleh anak Medan………. Cerita sangat original dan mengalir secara nyata dan logic….
    Untuk Gambar dan kedetailan saya sangat suka dgn komik ini dan memang nyatanya I Want To Live merupakan salah satu komik Koloni yg menembus BEST SELLER ini bisa mencuat ke permukaan dan di gemari khalayak ramai dalam waktu yg singkat…….

    Kalo boleh tahu apakah kurochan penah menerbitkan komik sebelumnya karena saya terlihat sangat ahli berkomentar……………. aja.

    Posted on January 28th, 2011 at 9:29 PM

  5. Denny Sitohang | Medan Talk Says:

    sorry, si pembuat komik sama sekali tidak bermaksud untuk mendompleng siapapun bro kurochan. kalaupun di berita ini ada lembaga yang disebut-sebut (di judul) itu tak lain sebagai trik marketing dunia maya. hanya semacam keyword saja. misalnya kalau ada yang mengetikkan sekolah sutomo medan di google, maka artikel ini mungkin akan muncul.

    sudah baca komiknya? kalau belum cari dulu gih.

    Posted on January 28th, 2011 at 10:25 PM

Silakan Berikan Komentar




Copyright by: MedanTalk.com | SiteMap | Twitter | Facebook | Contact | Supported by: MedanKu | Macan Group | All rights reserved Worldwide.