Sitor Situmorang, salah seorang sesepuh sastra Indonesia, hadir di Hermina Hall Medan, Kompleks Universitas Darma Agung, Selasa
(17/11) sore. Walau langkah sedikit tertatih dan fisik yang mulai melemah, semangat Sitor tampak masih membara hari itu!
Kali ini, Sitor Situmorang khusus datang dalam rangkaian bedah buku “Menimbang Sitor Situmorang” dan “Toba Na Sae” terbitan Komunitas
Bambu, Depok. Buku “Menimbang Sitor Situmorang” merupakan kumpulan 18 tulisan yang bicara soal sosok Sitor Situmorang. Sementara “Toba Na Sae” merupakan karya Sitor sendiri yang menunjukkan “mata rantai sejarah Batak yang hilang” dan menilisik lebih jauh dalam dinamika sejarah Batak yang membuka peluang untuk menjawab pertanyaan penting tentang Batak!
Gelaran itu dirajut dengan pemutaran film tentang karya dan kehidupan Sitor Situmorang, diskusi Sitor Situmorang dan Dunia Batak, Fragmen Pulo Batu karya Sitor Situmorang yang dipentaskan oleh Pusat Latihan Opera Batak (PLOt) arahan Thompson HS. Seluruh paket acara “Menimbang Sitor Situmorang – 85 Tahun Sitor Situmorang” ini diisi oleh DR Johann Angerler, Prof DR Bungaran A Simanjuntak, Prof DR Robert Sibarani MS, Thompson HS, E br Silaban, Alister Nainggolan, Tiurma cs.
Lebih setengah abad Sitor Situmorang berkarya dalam lapangan sastra, teater, film, jurnalistik, sejarah dan filsafat… ia adalah salah satu dari sedikit anggota kelompok sastrawan Angkatan’45 yang memperjuangkan “revolusi” sastra baru Indonesia. Seorang sesepuh yang sudah melewati banyak jaman.
Selama empat jam lebih Sitor Situmorang tetap kukuh membara dalam acara yang digagas lembaga Erasmus Huis (lembaga kebudayaan Belanda di Indonesia), PLOt (Pusat Latihan Opera Batak), Universitas Darma Agung (UDA) dan Komunitas Bambu (penerbit) sejak pukul 14.00 sampai senja menjelang.* (EHB/foto: frinnie)
Popularity: 1% [?]
RSS Feeds
Twitter
Facebook
E-Mail











budi arsil Says:
Mantaplah, kalau bisa informasi orang medan yang berprestasi diluar negeri yang lebih banyak lay, Tq
Posted on January 28th, 2010 at 11:25 AM