Selamat Ulang Tahun Medan!
01/07/2010 in News

Mungkin masih banyak warga Medan yang belum ngeh kalau hari ini, 1 Juli merupakan Hari Jadi Kota Medan. Hari ini, kota kita tercinta ini sudah berusia 420 tahun. Dibandingkan 420 tahun lalu, hari ini Medan sudah sangat jauh berbeda. Tapi, kalau kita bandingkan dengan kota lain yang seumuran, bisa jadi Medan masih tertinggal jauh.
Ketertinggalan itu seharusnya menjadi “cambuk” bagi kita semua untuk terus berbenah. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Mulai dari hal-hal kecil, sampai persoalan besar yang membuat pusing pemerintah kota dan warganya.
Mumpung masih dalam suasana pesta ulang tahun, ada baiknya kita baca-baca sejarah Kota Medan. Mudah-mudahan bisa menambah kecintaan kita pada kota ini.
Dulu kala, Kota Medan dikenal dengan nama Medan Putri. Tanahnya berawa-rawa dengan luas sekitar 4.000 Ha. Tanah Medan dibelah beberapa sungai yang seluruhnya bermuara ke Selat Malaka. Sungai-sungai itu adalah Sei Deli, Sei Babura, Sei Sikambing, Sei Denai, Sei Putih, Sei Badra, Sei Belawan dan Sei Sulang Saling/Sei Kera.
Awalnya, yang membuka perkampungan Medan adalah Guru Patimpus, lokasinya terletak di Tanah Deli, maka sejak zaman penjajahan orang selalu merangkaikan Medan dengan Deli (Medan–Deli).
Dulu orang menamakan Tanah Deli mulai dari Sungai Ular (Deli Serdang) sampai ke Sungai Wampu di Langkat. Sedangkan Kesultanan Deli yang berkuasa pada waktu itu wilayah kekuasaannya tidak mencakup daerah di antara kedua sungai tersebut.
Secara keseluruhan jenis tanah di wilayah Deli terdiri dari tanah liat, tanah pasir, tanah campuran, tanah hitam, tanah coklat dan tanah merah. Ini adalah hasil penelitian Van Hissink pada 1900 yang dilanjutkan oleh penelitian Vriens pada 1910. Selain jenis tanah tersebut, ditemukan jenis tanah liat yang spesifik. Tanah ini berada di tempat yang bernama Bakaran Batu (sekarang Medan Tenggara atau Menteng). Di situ ada pabrik pengolah batu bata berkualitas tinggi: Deli Klei.
Menurut Volker, pada 1860 Medan masih merupakan hutan rimba. Di sana sini, terutama di muara-muara sungai diselingi pemukiman penduduk yang berasal dari Karo dan semenanjung Malaya.
O iya, Medan Putri posisinya strategis karena terletak di pertemuan sungai Deli dan sungai Babura, tidak jauh dari jalan Putri Hijau sekarang. Kedua sungai itu pada masa itu merupakan jalur lalu lintas perdagangan yang cukup ramai, karenanya cepat berkembang menjadi pelabuhan transit yang sangat penting.
Saat orang yang datang semakin banyak, isteri Guru Patimpus melahirkan anak pertama, seorang laki-laki dan dinamai si Kolok. Mata pencarian orang di Kampung Medan yang mereka namai dengan si Sepuluh Dua Kuta adalah bertani menanam lada. Tak lama, lahirlah anak kedua Guru Patimpus dan dinamai si Kecik.
Guru Patimpus berfikiran maju. Ia menyuruh anaknya menuntut ilmu membaca Al-Qur’an kepada Datuk Kota Bangun dan memperdalam agama Islam ke Aceh.
Risalah lain, H. Muhammad Said yang mengutip melalui buku Deli: In Woord en Beeld ditulis oleh N. ten Cate menceritakan Kampung Medan ini merupakan Benteng dan sisanya masih ada terdiri dari dinding dua lapis berbentuk bundaran yang terdapat di pertemuan antara dua sungai yakni Sungai Deli dan sungai Babura. Rumah Administrateur terletak di seberang sungai dari Kampung Medan. Letak Kampung Medan ini adalah di Wisma Benteng sekarang dan rumah Administrateur itu adalah kantor PTP IX Tembakau Deli yang sekarang ini.
Medan tidak berkembang hingga 1860-an, ketika penguasa-penguasa Belanda mulai membebaskan tanah untuk perkebunan tembakau. Jacob Nienhuys, Van der Falk, dan Elliot, pedagang tembakau asal Belanda memelopori pembukaan kebun tembakau di Tanah Deli. Nienhuys yang sebelumnya berbisnis tembakau di Jawa, pindah ke Deli diajak seorang Arab Surabaya bernama Said Abdullah Bilsagih, ipar Sultan Deli, Mahmud Perkasa Alam Deli.
Nienhuys pertama kali berkebun tembakau di tanah milik Sultan Deli seluas 4.000 Bahu di Tanjung Sepassi, dekat Labuhan. Areal seluas 4.000 bahu (1 bahu = 0,74 ha) secara erfpacht 20 tahun itu didapat Nienhuys cs pada 1863. Maret 1864, Nienhuys mengirim contoh tembakau hasil kebunnya ke Rotterdam, Belanda untuk diuji kualitasnya. Ternyata, daun tembakau itu dianggap berkualitas tinggi untuk bahan cerutu. Melambunglah nama Deli di Eropa sebagai penghasil bungkus cerutu terbaik.
Seperti yang dituliskan oleh Tengku Luckman Sinar dalam bukunya, dijelaskan bahwa “kuli-kuli perkebunan itu umumnya orang-orang Tionghoa yang didatangkan dari Jawa, Tiongkok, Singapura, atau Malaysia. Belanda menganggap orang lokal malas serta melawan sehingga tidak dapat dijadikan kuli.
Perjanjian tembakau ditandatangani Belanda dengan Sultan Deli pada 1865. Selang dua tahun, Nienhuys bersama Jannsen, P.W. Clemen, dan Cremer mendirikan perusahaan De Deli Maatschappij yang disingkat Deli Mij di Labuhan. Pada 1869, Nienhuys memindahkan kantor pusat Deli Mij dari Labuhan ke Kampung Medan. Kantor baru itu dibangun di pinggir sungai Deli, tepatnya di kantor PTPN II (eks PTPN IX) sekarang.
Perpindahan ini rupanya merangsang pembangunan Medan. “Kampung Medan Putri” semakin ramai dan berkembang, namanya pun berubah menjadi Medan. Kota ini segera menjadi pusat aktivitas pemerintahan dan perdagangan, sekaligus daerah paling maju di Indonesia bagian barat. Pesatnya perkembangan perekonomian mengubah Deli menjadi pusat perdagangan yang mahsyur dengan julukan het dollar land alias tanah uang. Mereka kemudian membuka perkebunan baru di daerah Martubung, Sunggal pada 1869, serta sungai Beras dan Klumpang pada 1875.
Perkembangan Medan Putri menjadi pusat perdagangan telah mendorongnya menjadi pusat pemerintahan. Pada 1879, Ibukota Asisten Residen Deli dipindahkan dari Labuhan ke Medan, 1 Maret 1887, ibukota Residen Sumatera Timur dipindahkan pula dari Bengkalis ke Medan. Istana Kesultanan Deli yang semula berada di Kampung Bahari (Labuhan) juga pindah dengan selesainya pembangunan Istana Maimoon pada 18 Mei 1891. Ibukota Deli pun secara resmi pindah ke Medan.
Pada 1915 Residensi Sumatera Timur ditingkatkan kedudukannya menjadi Gubernemen. Pada 1918, Kota Medan resmi menjadi Gemeente (Kota Praja) dengan Walikota Baron Daniel Mackay. Berdasarkan “Acte van Schenking” (Akte Hibah) Nomor 97 Notaris J.M. de-Hondt Junior, tanggal 30 November 1918, Sultan Deli menyerahkan tanah Kota Medan kepada Gemeente Medan, sehingga resmi menjadi wilayah di bawah kekuasaan langsung Hindia Belanda. Pada masa awal Kotapraja ini, Medan masih terdiri dari 4 kampung, yaitu Kampung Kesawan, Kampung Sungai Rengas, Kampung Petisah Hulu dan Kampung Petisah Hilir.
Pada 1918 penduduk Medan tercatat sebanyak 43.826 jiwa yang terdiri dari Eropa 409 orang, Indonesia 35.009 orang, Cina 8.269 orang dan Timur Asing lainnya 139 orang.
Sejak itu Kota Medan berkembang semakin pesat. Berbagai fasilitas dibangun. Beberapa di antaranya adalah Kantor Stasiun Percobaan AVROS di Kampung Baru (1919), sekarang RISPA, hubungan Kereta Api Pangkalan Brandan – Besitang (1919), Konsulat Amerika (1919), Sekolah Guru Indonesia di Jl. H.M. Yamin sekarang (1923), Mingguan Soematra (1924), Perkumpulan Renang Medan (1924), Pusat Pasar, R.S. Elizabeth, Klinik Sakit Mata dan Lapangan Olah Raga Kebun Bunga (1929).
Secara historis perkembangan Kota Medan, sejak awal telah memposisikan menjadi pusat perdagangan (ekspor-impor) sejak masa lalu. sedang dijadikannya medan sebagai ibukota Deli juga telah menjadikannya Kota Medan berkembang menjadi pusat pemerintah. sampai saat ini di samping merupakan salah satu daerah kota, juga sekaligus sebagai ibukota Provinsi Sumatera Utara.
Sumber: wikipedia
Popularity: 1% [?]












