Rencana pemerintah melakukan redenominasi disikapi tenang oleh pelaku usaha di Sumatera Utara. Mereka beranggapan, rencana pemerintah tersebut tidak akan mempengaruhi kondisi dunia usaha di secara umum.
“Kalau kita melihat penjelasan dari BI (Bank Indonesia-red), sebenarnya tujuannya baik. Pertanyaannya, bagaimana menyesuaikan dengan suplier terutama menyangkut kebutuhan pokok strategis seperti beras, minyak goreng dan terkait sektor dunia usaha,” ujar Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sumut Bidang Hubungan Kerjasama Luar Negeri Jonner Napitulu, di Medan, Rabu (4/8).
Meski begitu, tidak bisa dipungkiri selama proses redenominasi berlangsung, masalah pasti bakal bermunculan. Sebab itu, saat masa transisi komitmen pemerintah memaksimalkan sosialisasi sangatlah dibutuhkan, terutama bagi seluruh masyarakat, sehingga pemahaman terjadi secara menyeluruh.
“Pemerintah mesti jamin biaya barang mesti disesuaikan. Ajak seluruh stake holder duduk bersama. Sosialisasi harus benar-benar matang,” ucapnya.
Menurut Jonner, redenominasi atau penurunan nominal tanpa pemotongan nilai, dalam rangka proses penyederhanaan penyebutan satuan harga dan nilai, tidak akan memengaruhi kinerja dunia usaha. Hal halnya dengan sanering atau pemotongan nilai tukar mata uang rupiah.
Jonner mengaku, selama ini rekan bisnis terutama dari luar negeri ikut merasa kesulitan dengan besarnya nilai tukar mata uang Rupiah. Jika dibandingkan dengan negara tetangga lainnya, mereka, sebut Jonner, lebih menyukai jika nominal mata uang Rupiah disederhanakan.
“Saat berkunjung ke sini, mereka sering bilang i’m a millionaire. Itu karena sangkin besarnya nilai uang kita. Makanya, kalau ditanya apakah pengusaha setuju, ya kita setuju saja. Asalkan, tak memotong nilainya,” terang Jonner.
Popularity: 2% [?]
RSS Feeds
Twitter
Facebook
E-Mail










