“Folk post accoustic” begitu mereka menyebut aliran musik yang mereka bawakan. Walau tergolong “melawan arus” musik komersial yang sedang hits di tanah air, mereka tetap yakin dan percaya diri bahwa ini adalah panggilan hati yang sesuai dengan hobi bermusik mereka.
Sebut saja Verdure. Sebuah band yang baru terbentuk Desember lalu di Medan. Sebagai pendatang baru, Verdure berani keluar dari jepitan pangsa musik lokal. Ada yang sangat berbeda dengan band yang dimotori Rendie (vokalis), Ori (bassis), Fachri (gitar) dan Deny (drummer) ini.
Keempat anak muda Medan ini memang tak ingin terjebak dalam komersialisasi industri musik. Mereka mengaku bermusik adalah panggilan hati dan hobi, sehingga mereka akan tetap memainkan musik yang memang mereka sukai tanpa “peduli” arus industri komersil musik saat ini. Walau pun begitu, untuk panggung musik lokal, walau menampilkan aliran musik yang “melawan arus” merek cukup sering diundang sebagai bintang tamu atau mengisi event tertentu.
Personel Verdure sendiri bergabung dalam band sebagai satu hobi yang mereka tekuni bersama, di luar itu mereka punya kesibukan rutin masing-masing. Rendie si vokalis masih mengecap pendidikan di Fakultas Hukum USU dan bekerja penyiar di salah satu radio terkemuka di Medan. Ori, saat ini sibuk menempuh co-ass demi mendapatkan gelar dokter-nya. Sementara Fachri bekerja aktif sebagai design grafis di salah satu majalah remaja Medan Dan Deny masih kuliah di negeri jiran Malaysia, yang sesekali pulang ke Medan.
Apa itu Verdure? Nama ini terdengar tak lazim, namun dalam kamus bisa berarti “tunas muda daun atau rumput”, “hijau segar”, “suatu kondisi yang selalu segar”. Ini bukan nama sembarangan, nama ini berawal dari judul lagu yang sering mereka nyanyikan bersama. Karena band ini belum punya nama kala itu maka jadilah “Verdure” sebagai pilihan dan langsung mengena dengan sifat band mereka yang selalu menginginkan kondisi fresh.
Anak-anak Verdure pun punya background musik dan band yang berbeda sebelumnya. Ada penggemar jazz, blues, rock, alternatif… namun dalam perbedaan itu mereka memilih jalur “folk post accoustic” yang sama-sama mengena di hati mereka sebagai satu aliran musik.
“Kami terinspirasi satu band yang bernama ‘The Trees and The Wild’ yang musiknya menyentuh emosi. Folk post itu merupakan musik yang ada alur naik turunnya dan dapat memengaruhi emosi pendengarnya namun tetap slow dan tenang,” ujar Fachri.
Untuk Medan, ini jelas merupakan aliran baru yang sangat berbeda dengan trend band lokal lainnya. Namun justru perbedaan ini yang ingin mereka tunjukkan dengan tidak berniat hanyut pada arus trend. Bagi personil Verdure, musik adalah panggilan jiwa dan hobi. “Bukankah kita bebas berekspresi?” ucap Fachri.
Musik bagi mereka bukan untuk mencari nafkah atau materi. Namun musik adalah bahasa jiwa, penyaluran hobi dan perasan mereka… karena itu Verdure akan terus mengumandangkan lantunan jiwa mereka! Bravo!* (foto: Fatahilah Ginting)
Popularity: 1% [?]
RSS Feeds
Twitter
Facebook
E-Mail










