Wacana untuk melegalkan judi di Indonesia kembali mengemuka setelah belum lama ini dikabarkan bahwa penjudi asal Indonesia tercatat menempati peringkat 3 besar di Singapura.
Kontroversi pun mulai bermunculan. “Jangan berpikir untuk melegalkan judi di Indonesia,” ujar Ketua Forum Warga Jakarta (Fakta) Azas Tigor Nainggolan, seperti dilansir Detik, Jumat (1/7).
Tigor mengakui memang banyak penjudi di Indonesia yang menghabiskan uangnya di kasino-kasino luar negeri. Namun dia yakin mayoritas masyarakat Indonesia akan menolak legalisasi judi, walaupun itu di tempat yang terpencil dan terisolir.
“Dulu sekitar tahun 2006, pernah ada wacana untuk menjadikan kasino di Kepulauan Seribu. Namun masyarakat menolak keras wacana tersebut,” tegasnya.
Komentar mendukung datang dari kriminolog Universitas Indonesia (UI) Prof Adrianus Meliala. Melokalisir judi tidak akan berdampak banyak terhadap kalangan bawah, karena hanya kalangan masyarakat atas yang dapat masuk dalam kawasan tersebut.
“Dampak kriminalnya jauh lebih kecil ketimbang menghandapi orang-orang kecil yang bermain judi,” tutur Adrianus saat berbincang dengan detikcom, Jumat (2/7). Bermain judi di lokalisasi judi merupakan gaya hidup orang kaya, jadi masa bodo amat kalau orang kaya itu bangkrut, katanya.
Adrianus mencontohkan pola yang ada di kawasan judi di Las Vegas di mana setiap penjudi diwajibkan untuk mendepositkan sejumlah uang, sekitar Rp 50 juta. “Siapa yang punya uang segitu kalau bukan orang kaya, hal seperti itu tidak bisa dilakukan oleh masyarakat di kalangan bawah,” tuturnya.
Sosiolog UI, Musni Umar juga berkomentar senada. Ia menilai Indonesia perlu mencontoh Malaysia yang melokalisir judi di Genting Highlands. Namun, pemerintah sangat ketat dalam menerapkan aturan bagi penjudi di lokasi itu.
“Di sana yang boleh masuk hanya orang China dan India saja. Orang Melayu yang Muslim dilarang keras masuk dan berjudi,” ujar Musni, Jumat (2/7).
Jika di Indonesia ada lokalisasi untuk perjudian, Musni menilai tempat yang cocok adalah di pulau yang letaknya terpencil. Agar tidak sembarang orang bisa masuk, dan tidak mengganggu masyarakat di sekitarnya. Yang penting, kultur masyarakatnya bisa menerima. “Jangan di tengah-tengah Kebayoran Baru yang masyarakatnya Muslim, tiba-tiba bangun kasino,” terang dia.
Popularity: 1% [?]
RSS Feeds
Twitter
Facebook
E-Mail












