Bagi Andre Kuik dan pasangannya, Marjolein Wissink, perjalanan ke Lampung pada pertengahan April lalu, merupakan yang ketiga kalinya. Namun berbeda dengan sebelumnya, kali ini dia pasti bertemu dengan ibu kandungnya, Kartini (65 tahun) serta saudara kandungnya. . Perasaannya tak menentu. Setelah tiba di Jakarta setelah terbang sekitar 15 jam dari Belanda, Andre tak dapat tidur di malam hari. Esok harinya, dia dan Marjolein bergegas ke Lampung dengan penerbangan di pagi hari. . “Sangat bahagia, gugup dan saya sangat merasakan mereka sangat dekat,” ungkap Andre ketika sampai di Pringsewu, beberapa kilometer dari rumah ibunya. . Kegelisahan tampak di wajah Andre dan matanya melihat ke setiap sudut kampung dari jendela mobil ketika kami semakin mendekati kediaman ibu kandungnya. Dari balik jendela mobil, puluhan warga desa tampak berkerumun dan tampak penasaran menanti kedatangan ‘si anak hilang’. . Andre mempercepat langkahnya begitu melihat sosok perempuan kecil berkerudung hitam yang berdiri di depan rumah menyambut kedatangannya. . Keduanya berpelukan erat dan menangis, seluruh keluarga dan juga tetangga ibunya mengelilingi mereka dan ikut menangis. . “Saya merasa ini tidak nyata, ” kata Andre. . “Seneng banget, anak hilang iso ketemu meneh(bisa bertemu kembali), iso balik meneh (bisa kembali lagi), anak lanang bisa balik (anak laki-lakiku bisa kembali), ” kata Kartini dalam bahasa Indonesia dan Jawa. . Sumber : BBC.com Like – Comment – Share •• Punya foto/video yang anda ingin berbagi? Silakan LINE ke @medantalk untuk di sharing bersama. •• Untuk informasi Automotif lainnya Follow @OtomTalk •• Mau cari rumah? Inspirasi design? Follow @RumahTalk •• Untuk Medan Punya Cerita Follow @medanku •• Bingung Cari Kerja atau Cari karyawan? Cek info Lowongan Kerja. Follow @KarirGram

Bagi Andre Kuik dan pasangannya, Marjolein Wissink, perjalanan ke Lampung pada pertengahan April lalu, merupakan yang ketiga kalinya. Namun berbeda dengan sebelumnya, kali ini dia pasti bertemu dengan ibu kandungnya, Kartini (65 tahun) serta saudara kandungnya.
.
Perasaannya tak menentu. Setelah tiba di Jakarta setelah terbang sekitar 15 jam dari Belanda, Andre tak dapat tidur di malam hari. Esok harinya, dia dan Marjolein bergegas ke Lampung dengan penerbangan di pagi hari.
.
“Sangat bahagia, gugup dan saya sangat merasakan mereka sangat dekat,” ungkap Andre ketika sampai di Pringsewu, beberapa kilometer dari rumah ibunya.
.
Kegelisahan tampak di wajah Andre dan matanya melihat ke setiap sudut kampung dari jendela mobil ketika kami semakin mendekati kediaman ibu kandungnya. Dari balik jendela mobil, puluhan warga desa tampak berkerumun dan tampak penasaran menanti kedatangan ‘si anak hilang’.
.
Andre mempercepat langkahnya begitu melihat sosok perempuan kecil berkerudung hitam yang berdiri di depan rumah menyambut kedatangannya.
.
Keduanya berpelukan erat dan menangis, seluruh keluarga dan juga tetangga ibunya mengelilingi mereka dan ikut menangis.
.
“Saya merasa ini tidak nyata, ” kata Andre.
.
“Seneng banget, anak hilang iso ketemu meneh(bisa bertemu kembali), iso balik meneh (bisa kembali lagi), anak lanang bisa balik (anak laki-lakiku bisa kembali), ” kata Kartini dalam bahasa Indonesia dan Jawa.
.
Sumber : BBC.com
Like – Comment – Share
•• Punya foto/video yang anda ingin berbagi? Silakan LINE ke @medantalk untuk di sharing bersama.
•• Untuk informasi Automotif lainnya Follow @OtomTalk
•• Mau cari rumah? Inspirasi design? Follow @RumahTalk
•• Untuk Medan Punya Cerita Follow @medanku
•• Bingung Cari Kerja atau Cari karyawan? Cek info Lowongan Kerja. Follow @KarirGram

Ada hal menarik saat karateka Sumut Srunita Sari Sukatendel meraih medali perak pada Seri III Liga Primer Dunia kumite -50 kg World Premier League (WPL), Rotterdam, Belanda, kemarin, Minggu (18/3/2018). . Srunita bersama Sisilia Ora (kata perorangan), Cok Istri Agung Sanistyarani (kumite -55 kg), dan Ahmad Zigi Zaresta Yuda (kata perorangan putra) berangkat menuju WPL Belanda tanpa didampingi kontingen baik pelatih maupun manajer dari Indonesia. . Atlet peraih emas Sea Games 2017 Malaysia ini menjelaskan dirinya mendapat bantuan dari pelatih (sensei) asal Belanda Patrick Van Dalen yang miris melihat kondisi keempat atlet Indonesia yang tidak memiliki pendamping. . Patrick secara sukarela mendampingi Srunita cs sebagai pemegang card tim saat keempatnya bertanding. . “Kehadiran sensei Patrick Van Dalen hanya mendampingi kami, bukan sebagai pelatih kami. Dia itu, kemarin kasihan lihat kami. Karena sejak main pertama sampai di final gak ada satu pun pelatih yang dampingi kami. Karena kalau bertanding perlu card. Jadi, dia mau jadi card kami, yang bisa protes gitu kalau ada pukulan masuk yang tidak dihitung. Jadi, karena gak ada yang ngangkatin kartu, dia kasihan lihat kami. Jadinya, dia bilang akhirnya mau bantu kami,” jelasnya. . “Puji syukur kami pulang dengan medali, meski teman-teman yang lainnya belum beruntung. Kami telah memberikan yang terbaik yang kami miliki. Terkhusus sensei Patrick yang mau secara sukarela membantu kami meski tidak memiliki hubungan apa-apa,” pungkasnya. . Sumber : http://medan.tribunnews.com/2018/03/19/tak-didampingin-pelatih-indonesia-srunita-dapat-bantuan-dari-pelatih-belanda

Ada hal menarik saat karateka Sumut Srunita Sari Sukatendel meraih medali perak pada Seri III Liga Primer Dunia kumite -50 kg World Premier League (WPL), Rotterdam, Belanda, kemarin, Minggu (18/3/2018).
.
Srunita bersama Sisilia Ora (kata perorangan), Cok Istri Agung Sanistyarani (kumite -55 kg), dan Ahmad Zigi Zaresta Yuda (kata perorangan putra) berangkat menuju WPL Belanda tanpa didampingi kontingen baik pelatih maupun manajer dari Indonesia.
.
Atlet peraih emas Sea Games 2017 Malaysia ini menjelaskan dirinya mendapat bantuan dari pelatih (sensei) asal Belanda Patrick Van Dalen yang miris melihat kondisi keempat atlet Indonesia yang tidak memiliki pendamping.
.
Patrick secara sukarela mendampingi Srunita cs sebagai pemegang card tim saat keempatnya bertanding.
.
“Kehadiran sensei Patrick Van Dalen hanya mendampingi kami, bukan sebagai pelatih kami. Dia itu, kemarin kasihan lihat kami. Karena sejak main pertama sampai di final gak ada satu pun pelatih yang dampingi kami. Karena kalau bertanding perlu card. Jadi, dia mau jadi card kami, yang bisa protes gitu kalau ada pukulan masuk yang tidak dihitung. Jadi, karena gak ada yang ngangkatin kartu, dia kasihan lihat kami. Jadinya, dia bilang akhirnya mau bantu kami,” jelasnya.
.
“Puji syukur kami pulang dengan medali, meski teman-teman yang lainnya belum beruntung. Kami telah memberikan yang terbaik yang kami miliki. Terkhusus sensei Patrick yang mau secara sukarela membantu kami meski tidak memiliki hubungan apa-apa,” pungkasnya.
.
Sumber : http://medan.tribunnews.com/2018/03/19/tak-didampingin-pelatih-indonesia-srunita-dapat-bantuan-dari-pelatih-belanda