Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti atau Menteri Susimengaku malu lantaran Indonesia sampai saat ini menjadi negara penyumbang sampah plastik kedua terbesar di dunia. Padahal, di saat yang sama Indonesia adalah penghasil ikan terbesar keempat di dunia. . “Kita malu jadi penyumbang sampah plastik nomor dua di dunia,” ujar Susi dalam Pawai Bebas Sampah Plastik dari Bundaran Hotel Indonesia ke Taman Aspirasi Monumen Nasional, Jakarta, Minggu, 21 Juli 2019. . Susi memprediksikan pada 2040 jumlah sampah plastik di laut bisa lebih banyak daripada populasi ikan. Sehingga, para nelayan nantinya diproyeksi menangkap plastik ketimbang ikan. . Padahal, menurut dia, masyarakat Indonesia sangat membutuhkan asupan protein dari laut. Sebabnya, protein dari hewan laut seperti ikan dan udang lebih mudah dan murah didapat. “Tapi nanti kita malah makan protein dari plastik, mau tidak?” . Dalam acara hari ini, Susi lantas menunjuk sebuah instalasi monster sampah plastik berbentuk ikan sungut ganda atau Anglierfish yang menjadi maskot. Monster itu terbuat dari sampah plastik, antara lain kresek plastik, kemasan indomie, hingga bungkus minuman serbuk, seberat 500 kilogram. . Setelah memperkenalkan maskot itu, Susi mengatakan produksi sampah plastik di ibu kota bisa menghasilkan sekitar 500 buah monster serupa setiap harinya. “Bayangkan, kalau meghitung Jakarta dengan penduduk begitu banyak, setiap hari bisa ada 500 monster plastik seperti ini kalau kita tidak mengurangi pemakaian plastik sekali pakai, seram tidak?” ujar Susi. . Susi pun mengatakan sampah plastik saat ini masih sangat banyak kendati sudah ada beberapa daerah yang melarang penggunaan kantong plastik sekali pakai, misalnya Bali, Banjarmasin, dan Balikpapan. Sehingga, ia membayangkan kalau penggunaan plastik itu tidak dikurangi maupun tidak dilarang. . Sumber : https://bisnis.tempo.co/read/1226896/menteri-susi-malu-ri-penyumbang-sampah-plastik-terbesar-kedua-di-dunia

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti atau Menteri Susimengaku malu lantaran Indonesia sampai saat ini menjadi negara penyumbang sampah plastik kedua terbesar di dunia. Padahal, di saat yang sama Indonesia adalah penghasil ikan terbesar keempat di dunia.
.
“Kita malu jadi penyumbang sampah plastik nomor dua di dunia,” ujar Susi dalam Pawai Bebas Sampah Plastik dari Bundaran Hotel Indonesia ke Taman Aspirasi Monumen Nasional, Jakarta, Minggu, 21 Juli 2019.
.
Susi memprediksikan pada 2040 jumlah sampah plastik di laut bisa lebih banyak daripada populasi ikan. Sehingga, para nelayan nantinya diproyeksi menangkap plastik ketimbang ikan.
.
Padahal, menurut dia, masyarakat Indonesia sangat membutuhkan asupan protein dari laut. Sebabnya, protein dari hewan laut seperti ikan dan udang lebih mudah dan murah didapat. “Tapi nanti kita malah makan protein dari plastik, mau tidak?”
.
Dalam acara hari ini, Susi lantas menunjuk sebuah instalasi monster sampah plastik berbentuk ikan sungut ganda atau Anglierfish yang menjadi maskot. Monster itu terbuat dari sampah plastik, antara lain kresek plastik, kemasan indomie, hingga bungkus minuman serbuk, seberat 500 kilogram.
.
Setelah memperkenalkan maskot itu, Susi mengatakan produksi sampah plastik di ibu kota bisa menghasilkan sekitar 500 buah monster serupa setiap harinya. “Bayangkan, kalau meghitung Jakarta dengan penduduk begitu banyak, setiap hari bisa ada 500 monster plastik seperti ini kalau kita tidak mengurangi pemakaian plastik sekali pakai, seram tidak?” ujar Susi.
.
Susi pun mengatakan sampah plastik saat ini masih sangat banyak kendati sudah ada beberapa daerah yang melarang penggunaan kantong plastik sekali pakai, misalnya Bali, Banjarmasin, dan Balikpapan. Sehingga, ia membayangkan kalau penggunaan plastik itu tidak dikurangi maupun tidak dilarang.
.
Sumber : https://bisnis.tempo.co/read/1226896/menteri-susi-malu-ri-penyumbang-sampah-plastik-terbesar-kedua-di-dunia

Pemerintah kembali berhasil menggagalkan upaya penyelundupan benih lobster ilegal senilai Rp37 miliar di Jambi, Kamis (18/4). . Kepala Badan Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu (BKIPM), Rina dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Sabtu, menyatakan keberhasilan penggagalan upaya penyelundupan benih lobster ini telah menyelamatkan potensi kerugian negara yang besar. “Total nilai benih lobster yang berhasil diselamatkan setara dengan Rp37,53 miliar,” ungkapnya. . Sebanyak 246.673 ekor benih lobster, yang terdiri 235.900 benih lobster jenis pasir dan 10.773 benih lobster jenis mutiara, berhasil diselamatkan melalui kerjasama tim gabungan Satreskrim Polres Tanjungjabung Timur dengan Stasiun Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Perikanan (SKIPM) Jambi. . Proses penangkapan bermula saat polisi melakukan patroli di sekitar Desa Lambur Luar, Kecamatan Sabak Timur, Kabupaten Tanjungjabung Timur, Kamis (18/4) dini hari. . Curiga terhadap tiga unit mobil yang berhenti di jalan raya, polisi menghampiri ketiga mobil tersebut. Namun diduga, pemilik mobil melarikan diri saat polisi hendak memeriksa mobil tersebut. Dari hasil pemeriksaan, benih lobster dikemas dalam 1.238 kantong plastik yang dimasukkan ke dalam 35 boks styrofoam. Hingga saat ini, pelaku masih dalam proses pencarian oleh Satreskrim Polres Tanjungjabung Timur. . Benih lobster, ujar dia, termasuk dalam jenis hasil laut yang dilarang penangkapannya berdasarkan Peraturan Menteri No. 56 Tahun 2016 tentang Penangkapan dan/atau Pengeluaran Lobster, Kepiting, dan Rajungan. . “Sesuai dengan peraturan yang berlaku tersebut, lobster berukuran di bawah 200 gram tidak boleh ditangkap supaya terjaga kelestariannya,” tambahnya. . Sejalan dengan hal itu, benih lobster yang berhasil diselamatkan di Jambi telah dilepasliarkan langsung oleh Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti pada Jumat (19/4) sore. . Sumber : https://sumut.antaranews.com/berita/209900/pemerintah-gagalkan-penyelundupan-benih-lobster-senilai-rp37-miliar

Pemerintah kembali berhasil menggagalkan upaya penyelundupan benih lobster ilegal senilai Rp37 miliar di Jambi, Kamis (18/4).
.
Kepala Badan Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu (BKIPM), Rina dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Sabtu, menyatakan keberhasilan penggagalan upaya penyelundupan benih lobster ini telah menyelamatkan potensi kerugian negara yang besar.
“Total nilai benih lobster yang berhasil diselamatkan setara dengan Rp37,53 miliar,” ungkapnya.
.
Sebanyak 246.673 ekor benih lobster, yang terdiri 235.900 benih lobster jenis pasir dan 10.773 benih lobster jenis mutiara, berhasil diselamatkan melalui kerjasama tim gabungan Satreskrim Polres Tanjungjabung Timur dengan Stasiun Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Perikanan (SKIPM) Jambi.
.
Proses penangkapan bermula saat polisi melakukan patroli di sekitar Desa Lambur Luar, Kecamatan Sabak Timur, Kabupaten Tanjungjabung Timur, Kamis (18/4) dini hari.
.
Curiga terhadap tiga unit mobil yang berhenti di jalan raya, polisi menghampiri ketiga mobil tersebut. Namun diduga, pemilik mobil melarikan diri saat polisi hendak memeriksa mobil tersebut.
Dari hasil pemeriksaan, benih lobster dikemas dalam 1.238 kantong plastik yang dimasukkan ke dalam 35 boks styrofoam. Hingga saat ini, pelaku masih dalam proses pencarian oleh Satreskrim Polres Tanjungjabung Timur.
.
Benih lobster, ujar dia, termasuk dalam jenis hasil laut yang dilarang penangkapannya berdasarkan Peraturan Menteri No. 56 Tahun 2016 tentang Penangkapan dan/atau Pengeluaran Lobster, Kepiting, dan Rajungan.
.
“Sesuai dengan peraturan yang berlaku tersebut, lobster berukuran di bawah 200 gram tidak boleh ditangkap supaya terjaga kelestariannya,” tambahnya.
.
Sejalan dengan hal itu, benih lobster yang berhasil diselamatkan di Jambi telah dilepasliarkan langsung oleh Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti pada Jumat (19/4) sore.
.
Sumber : https://sumut.antaranews.com/berita/209900/pemerintah-gagalkan-penyelundupan-benih-lobster-senilai-rp37-miliar