Didera kemiskinan, seorang anak tukang becak, Kariani Laia (14) siswa kelas VII SMP Negeri 19 Medan tak bisa meneruskan mimpi-mimpinya. Ia akhirnya memutuskan berhenti sekolah karena orangtuanya tidak sanggup membayar tunggakan uang buku Rp 510 ribu dan biaya seragam sekolah Rp 327 ribu. “Saya terus ditagih oleh sekolah. Tapi orangtua saya tak sanggup membayarnya. Saya malu di sekolah,” ujarnya sedih saat ditemui di kontrakan orangtuanya di Jalan Abadi, No 22 Kelurahan Tanjung Rejo, Kecamatan Medan Sunggal, Selasa (1/3). . Meski ayahnya Saroganita Laia (41) banting tulang mencari uang sebagai tukang becak, namun pendapatan tak cukup untuk membayar biaya tunggakan buku dan seragam itu. Bahkan ibunya Ferimani Nduru (38) juga tak bisa membantu sedikit biaya saja karena harus merawat mertuanya yang terkena stroke. Tak hanya Kairani yang menjadi korban dari lilitan kemiskinan, adiknya Yubianto Laia (12), siswa kelas VII SMP di sekolah yang sama, kini terancam putus sekolah. Sebab uang bukunya juga sudah menunggak dua bulan senilai Rp 140 ribu. “Adiknya juga sudah nunggak dua bulan, 140 ribu rupiah. Entah kami sanggup membayarnya,” tangis Ferimani. Sebelumnya, dua kakaknya yakni Yaki Hati Laia (18) dan Benilai Laia (17) juga putus sekolah ketika SMP karena tidak punya biaya. “Cukuplah abang dan kakaknya saja, jangan ikut dia dan adiknya. Saya tak ingin mereka hidup susah seperti saya karena sejak kecil tak pernah sekolah. Jangan,” tangis Ferimani lagi. Surianto, Anggota Komisi B DPRD Medan merasa prihatin atas kondisi Kairani. Ia menyebut, anak tersebut berhak mendapatkan pendidikan untuk melanjutkan impiannya. Karena itu, ia meminta Pemko Medan agar cepat-tanggap atas persoalan Kairani. “Nanti kita tanyakan kepala sekolahnya. Anak ini harus dibantu. Ia jangan sampai minder dan tak bersekolah. Pemko Medan musti tanggap. Itu kan ada bantuan siswa miskin. Harus kita tolong anak ini,” ujarnya. Sumber: harian analisa medan . . . . . . . . . . . . . . Mohon kiranya teman2 medantalk disini ada yang mau membantu adik ini untk menjadi anak asuh atau kakak asuk untuk pendidikan, sehingga ia dapat melanjutkan sekolahnya lagi, bisa langsung ke alamatnya

Medan Talk: Didera kemiskinan, seorang anak tukang becak, Kariani Laia (14) siswa kelas VII SMP Negeri 19 Medan tak bisa meneruskan mimpi-mimpinya. Ia akhirnya memutuskan berhenti sekolah karena orangtuanya tidak sanggup membayar tunggakan uang buku Rp 510 ribu dan biaya seragam sekolah Rp 327 ribu. “Saya terus ditagih oleh sekolah. Tapi orangtua saya tak sanggup membayarnya. Saya malu di sekolah,” ujarnya sedih saat ditemui di kontrakan orangtuanya di Jalan Abadi, No 22 Kelurahan Tanjung Rejo, Kecamatan Medan Sunggal, Selasa (1/3).
.
Meski ayahnya Saroganita Laia (41) banting tulang mencari uang sebagai tukang becak, namun pendapatan tak cukup untuk membayar biaya tunggakan buku dan seragam itu. Bahkan ibunya Ferimani Nduru (38) juga tak bisa membantu sedikit biaya saja karena harus merawat mertuanya yang terkena stroke.

Tak hanya Kairani yang menjadi korban dari lilitan kemiskinan, adiknya Yubianto Laia (12), siswa kelas VII SMP di sekolah yang sama, kini terancam putus sekolah. Sebab uang bukunya juga sudah menunggak dua bulan senilai Rp 140 ribu. “Adiknya juga sudah nunggak dua bulan, 140 ribu rupiah. Entah kami sanggup membayarnya,” tangis Ferimani.

Sebelumnya, dua kakaknya yakni Yaki Hati Laia (18) dan Benilai Laia (17) juga putus sekolah ketika SMP karena tidak punya biaya. “Cukuplah abang dan kakaknya saja, jangan ikut dia dan adiknya. Saya tak ingin mereka hidup susah seperti saya karena sejak kecil tak pernah sekolah. Jangan,” tangis Ferimani lagi.

Surianto, Anggota Komisi B DPRD Medan merasa prihatin atas kondisi Kairani. Ia menyebut, anak tersebut berhak mendapatkan pendidikan untuk melanjutkan impiannya. Karena itu, ia meminta Pemko Medan agar cepat-tanggap atas persoalan Kairani. “Nanti kita tanyakan kepala sekolahnya. Anak ini harus dibantu. Ia jangan sampai minder dan tak bersekolah. Pemko Medan musti tanggap. Itu kan ada bantuan siswa miskin. Harus kita tolong anak ini,” ujarnya.
Sumber: harian analisa medan
. . . . . . . . . . . . . .
Mohon kiranya teman2 medantalk disini ada yang mau membantu adik ini untk menjadi anak asuh atau kakak asuk untuk pendidikan, sehingga ia dapat melanjutkan sekolahnya lagi, bisa langsung ke alamatnya

View in Instagram ⇒

Follow social Media kami Instagram @MedanTalk ; Twitter @Medan

Leave a Reply